Tuesday, April 16, 2019

Mengikuti Pemilu 2019 di Belanda

Pesta demokrasi tiba. Meskipun tidak sedang berada di Indonesia, Alhamdulillah saya masih bisa mengikuti Pemilu 2019. Ini merupakan kali kedua saya memilih di Groningen. Untuk pemilih di Luar Negeri, pada umumnya ada dua opsi yang bisa dilakukan yaitu mencoblos langsung di TPS atau melalui Pos. Di Belanda, TPS berlokasi di Den Haag dan pemilihan dilakukan tanggal 13 April 2019. Karena satu dan lain hal, saya menggunakan hak pilih saya melalui Pos. 

Alhamdulillah, pekan pertama April saya menerima surat suara dari KBRI. Amplop tersebut berisi dua buah surat suara yaitu surat suara pemilihan Presiden-Wakil Presiden dan pemilihan anggota DPR Dapil DKI Jakarta II.



Setelah mencoblos, saya masukkan surat suara ke dalam amplop dan saya kirim kembali surat suara melalui Pos. Bismillah semoga pilihan saya tepat :) Alhamdilillah, cukup praktis tidak perlu ke TPS, tapi ada yang hilang yaitu... tidak mencelupkan jari ke tinta ungu hehehe :P 



Kayaknya besok di Indonesia akan rame nih. Siapapun Presiden-Wakil Presiden yang terpilih, semoga Indonesia semakin hebat ya, aamiin aamiin :)

Groningen, 16 April 2019
Read more >>>

Wednesday, April 10, 2019

Pengalaman Periksa Gigi di Groningen

Halo semuanya, apa kabar? Semoga dalam keadaan baik-baik dan sehat-sehat yaa..

Qadarulloh, beberapa waktu yang lalu saya sakit gigi hehe. Yap, gigi senut-senutan. Tidak menyakitkan sih, tapi ya lumayan annoying juga hehe.. Nah, karena asuransi kesehatan saya disini tidak mengcover biaya pengobatan sakit gigi, maka saya harus merogoh biaya pribadi nih untuk ini. Setelah bertanya-tanya, saya akhirnya tidak pergi ke klinik gigi dokter gigi seperti anak saya (postingannya bisa dilihat di link di bawah ya.. )


Akhirnya saya berkunjung ke Centrum voor Tandheelkunde of Mondzorgkunde di UMCG (selanjutnya saya singkat jadi CTM ya). Perawatan disini dikelola oleh Ko-As dokter gigi yang menempuh studi di UMCG, tentu saja dengan pengawasan oleh dosennya.  Maka ada diskon deh kira-kira sebesar 25% dari harga normal. Yeay! Nah ini nih yang disukai sama Emak-emak mahasiswa perantauan macam saya hehehe.. Mungkin ini secama Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Sekeloa-nya FKG Unpad ya. Ada yang pernah kesana? Saya juga pernah kesana, dalam rangka jadi pasiennya teman saya untuk scaling. Lumayan harganya juga lebih murah dari dokter gigi 😎

Untuk informasi lebih lanjut bisa lihat di sini :  https://www.umcg.nl/NL/UMCG/Afdelingen/CTM/Over_het_CTM/Paginas/default.aspx

Setelah ada notifikasi kemudian, saya berangkat ke CTM. Normalnya, kunjungan pertama ini gratis dan hanya interview saja. Pemeriksaan dilakukan saat kunjungan kedua, lalu ketika jika ada treatment yang perlu dilakukan, maka akan dilakukan di kunjungan ketiga. 
Saya ini tipe yang nervous kalau ke dokter gigi. Saat saya sampai disana, dokternya ramah sekali dan saya juga bilang kalau saya tidak lancar berbahasa Belanda, Alhamdulillah dokternya tidak mengapa menggunakan bahasa Inggris hehe. Saat dilakukan pengecekan, Beliau bertanya apa yang saya keluhkan dan apa yang saya harapkan dari kunjungan saya ini. Saya bilang saya mau rasa sakit saya diobati, dan tidak berminat untuk menjadi pasien tetap di sana (considering saya sebentar lagi mau pulang ke Indonesia hehe, doakan ya!)  Alhamdulillah, karena saya mengemukakan ini di awal, akhirnya saya dirujuk ke bagian emergency agar saya bisa dapat penanganan langsung.

a bit nervous actuallly haha

Rontgen Gigi
Setelah dicek, ternyata rasa sakit saya karena adanya inflamasi yang cukup besar dan dalam 😡 Alhamdulillah gigi tersebut tidak perlu dicabut, saya mah sudah pasrah #tsah. Karena inflamasi cukup dalam, maka dosennya yang menghandle langsung 😁 Kala itu saya merasa jadi objek penelitian hahaha, melihat langsung bagaimana Koas ditanya-tanya oleh sang Dokter walaupun saya gak paham seluruhnya juga sih karena mereka berkomunikasi dengan bahasa Belanda hehehe. Tapi saat terdengar suara "kruk kruk kruk", haeeem.. dalam hati saya cuma bisa istighfar.


Setelah itu, saya diberikan resep obat kumur dan juga dianjukan untuk membersihkan sela-sela gigi dengan tusuk gigi khusus. Padahal saya suka bersihkan pakai benang gigi, tapi ternyata itu tidak cukup. Baiklah..

Rasanya sakit gigi itu tidak enak ya, sakitnya sedikit tapi jadi urung-uringan dan cepet ngambek. Suami deh yang kena getahnya hiks. Maafkan yaa Ayaah :') Sekian cerita saya. Semoga ada manfaatnya ya.. 

Wasaalamualaikum 😊
Groningen, 10 April 2019
Read more >>>

Thursday, March 28, 2019

Serunya Mengumpulkan Poin di SamenGezond Menzis

Siapa yang menggunakan asuransi kesehatan Menzis disini? J
Setiap warga di Belanda umumnya memiliki asuransi kesehatan. Menzis yang merupakan salah satu provider asuransi kesehatan di Belanda, menawarkan program kesehatan online disebut SamenGezond. Kalau dari websitenya sih tertulisnya begini 
“As Menzis, we do everything we can to keep healthcare affordable and available to everyone. Not only by properly insuring everyone for care, but also by helping people make healthier choices.”
Tidak hanya memberikan asuransi tapi juga membantu orang menjadi lebih sehat. Tapi saya lebih tertarik dengan sistem poin yang mereka tawarkan dan poinnya bisa ditukar hehe (Ibu-ibu mode on).

Pertama-tama, masuk web https://samengezond.menzis.nl/, lalu login menggunakan DigID, e-mail atau bahkan menggunakan Facebook juga bisa kok. Hanya dengan sign up saja sudah mendapatkan tambahan 125 poin. Setiap ulang tahun pun kita akan diberi 500 poin. 

Log in Page

 
Activities Menzis Samen Gezond
Kita bisa mengumpulkan poin dengan mengikuti quiz-quiz atau aktivitas yang tertera di  https://samengezond.menzis.nl/activiteiten/ 


Nah, poin tersebut bisa ditukar dengan apa saja seperti voucher, donasi, dan lain-lain. Bisa dipilih di webshop https://samengezond.menzis.nl/shop/


Saya sendiri sudah menukarkan poin dengan voucher ticket nonton di Pathe, dan juga American Tourister Suitcase (yang ini harus nambah lagi dengan uang sih, tapi ya kan lumayan hehe..).
Menarik kan? Ayo kita kumpulkan poinnya, sebelum keburu pulang ke Indonesia hehehe..
Read more >>>

Saturday, March 16, 2019

week #54 The end is also followed by a new beginning

At the end of last year, I quit my violin lesson at music school.

Yes, I am not kidding. It was a really hard decision because I could not manage to come to music school anymore.  I could not make a balance with the high overload of thesis writing, too bad.

Indeed, I did not do it in a sudden. I told my teacher that I am going to quit the lesson for 4 weeks in advance. She was a bit surprised but in the end, we had two 'last lessons' and we tried to rehearse the Rieding Concerto in B minor in the last lesson. She gave me a hug and I could not hold my tears (Ha!), it was a bit emotional for me.

The picture is taken from here
Of course, I did not give up my childhood dream. After I left my 'offline lesson', I subscribed to an online violin class namely Julia's Violin Academy. I knew about it from a Youtube Channel, Violinspiration and  I like it! The lessons are very well structured and could follow the lesson at my own pace. Moreover, I could have feedback every week. There is also a community of the members which all of them are the adult learner as well (like me!). They are really supportive and positive. It feels good to know that I am not alone struggling with the instrument! 😁

That's all for now. For the update, I am learning the Kuchler Concertino in G, I hope I could master that piece very soon. Wish me luck!
Groningen, March 2019
Amalina





Read more >>>

Wednesday, January 30, 2019

The Unforgettable 17 Hours

*Tadinya ini mau dipost saat ulang tahun Dinara bulan lalu, tapi baru sempat sekarang :) Tak mengapa ya :D*

Groningen, xx Desember 2013

Sehari sebelum due date
Siang itu Saya teleponan dengan Bapak (waktu itu belum ada whatsapp call hehehe). 
Bapak : "Kapan due date teh?"
Saya : "besok, Pak."
Bapak : Oh, ya mudah-mudahan lancar." 
Due date

Hari itu ada jadwal pengajian silaturahmi bulanan deGromiest. Tapi saya dan suami tidak datang, niatnay sih mau jaga-jaga di rumah saja. Tapi setelah ditunggu kok saya gak ngerasa mules apa-apa. Hmm.. Tiba-tiba keinginan membuat kue tidak terbendung. Saya lihat ke dapur dan.. Ah, tidak. Bahan-bahannya habis. Saya keukeuh ingin buat kue hari itu sampai Suami geleng-geleng. Akhirnya sore itu kami berjalan kaki ke Winkelcentrum Paddepoel untuk membeli bahan kue. Suami sudah ada firasat sih, katanya "wah, jangan-jangan mau buat kue untuk bekal di rumah sakit nanti?"

Sehari setelah due date
Aneh sekali kok saya berada di Bandung (?) Saya tiba-tiba berada di depan rumah nenek dan seingat saya, saya sedang minum dan minumannya tumpah. Saya langsung terbangun. Olala, ternyata itu hanya mimpi. Saya melihat ke arah jam dinding dan jam menunjukkan pukul 05.00. Saya merasa ada sesuatu yang basah di dalam selimut. Yup, Air ketuban saya pecah! 
Saya : Ay, ini aku ketubannya pecah.
Suami : (masih setengah sadar). Apa? Ohh warna apa ketubannya?
Saya : Bening
Suami : Coba telepon bidan. 
Akhirnya saya menelepon bidan.
Saya: "Hello, blablablabkjhhihjkbfjkbiohogjbaf... it seems that my water broke"
Bidan:" hey Amalina, I was waiting for your call. Your due was yesterday, right. What is the color of the water? Any contraction?"
Saya : " No contraction and the water is clear"
Bidan : "All right, no worries. It is normal. Just wait until 9 am in the morning. If the water turns green or if you see any blood, call me immediately."
Baiklah. Tapi 10 menit kemudian ketuban saya jadi warna hijau dan juga ada bercak darah. Seketika saya panik. Saya pun menelepon Bidan lagi. Alhamdulillah tak lama kemudian Bidan langsung datang ke rumah. Sang bidan memeriksa saya dan juga detak jantung bayi. Tak lupa Beliau mengecek bekas air ketuban saya. 
Bidan : "You have to deliver your baby within 24 hours, at the hospital*. Which hospital do you want to go? Martini or UMCG? I will call them immediately."
*Defaultnya orang Belanda, kalau tidak ada masalah apa-apa ya lahirannya di rumah saja :)

Alhamdulillah bidan membawa mobil dan mengantar kami sehingga kami tidak perlu menyewa taksi untuk ke rumah sakit. Saya dan suami sudah menyiapkan koper sejak beberapa pekan lalu yang isinya perbekalan ke rumah sakit seperti baju ganti, baju bayi, dan yang lainnya. Kami pun tidak lupa membawa maxi cosi untuk bayi.

UMCG, Pukul 06.30 CET
Sesampainya di UMCG, saya diantar ke resepsionis dan suami sudah menyiapkan uang koin 2 Euro untuk menyewa kursi roda. Bidan pun mendorong saya yang berada di kursi roda sementara suami mendorong koper dan tas. Sesampainya di ruangan, saya heran. Mengapa ruangannya tidak sama dengan ruangan yang saya lihat ketika saya survey ruang bersalin. Saya tanya Bidan dan Beliau berkata "iya kamu harus melahirkan di ruangan khusus". Benar saja, ruangannya lebih besar :)


Di ruangan itu, hanya ada saya dan suami. Seketika saya merasakan kontraksi pertama. Ah, begini ya rasanya. Bidan pun memeriksa pembukaan dan uhhhhh saya sangat tidak suka, rasanya tidak nyaman :( setelah dicek ternyata baru pembukaan 1-2. Katanya sih pembukaan akan bertambah rata-rata 1 cm per jamnya. Baik, berarti kira-kira nanti siangan ya lahirannya, gumam saya dalam hati. Semakin kesini kontraksi semakin kuat. Saya langsung mengabari orangtua dan juga kakak saya, untuk meminta doa semoga persalinan dilancarkan. 

Pukul 09.00 CET
Bidan memeriksa kembali sejauh mana pembukaannya. Setelah dicek, sayang sekali pembukaannya masih 2. Tapi rasa mules sudah sangat "nikmat"..

Pukul 10.00 CET
Pembukaan dicek lagi, dan lagi-lagi masih pembukaan 2. Seharusnya sih minimal sudah pembukaan 4.  Bidan akhirnya memutuskan untuk menginduksi dengan hormon agar kontraksinya lebih kuat lagi. Saya sudah pasrah saja, yang penting bayi lahir sehat selamat. 

Pukul 12.00 CET
Tangan satu diinfus hormon, tangan yang lain dipasang alat lain. Perut juga diberi seperti belt untuk mengecek kontraksi dan memonitor keadaan bayi. Saya jadi tidak bisa kemana-mana bahkan untuk ke kamar mandi pun tidak bisa. Semakin kesini kontraksi semakin kencang. Saya sudah beberapa kali meremas-remas tangan suami saya dan tidak mau ditinggal sedikit pun. Bidan pun mengecek lagi pembukaan dan lagi-lagi, masih stuck di pembukaan 2. Bidan akhirnya merekomendasikan saya untuk menggunakan epidural karena kontraksi jalan terus sementara pembukaan berjalan lambat. Khawatirnya kalau terus-terusan begini, saya malah kehabisan energi sebelum ngeden. Suami saya menyetujuinya.

Baca juga : Maternity Care di Belanda 

Pukul 14.00 CET
Akhirnya setelah dua jam menunggu, dokter spesialis anestesi datang juga. Dua jam menunggu rasanya lamaaaaa banget karena rasa mulesnya sudah WOW dengan pembukaan masih disitu saja.  Jarum pun disuntikkan lewat punggung dan saya tidak merasa sakit, mungkin rasanya kalah dengan rasa sakit mules :) Yang saya ingat, dokter berkata "you are quite small". Setelah prosesnya selesai, masya Alloh, mulesnya hilang. Bukan kontraksinya sih yang hilang, tapi rasa sakitnya yang hilang. Saya tidak bisa merasakan apa-apa dari perut ke lutut saya. yaiya atuh Na, namanya juga dibius, what do you expect? Hehe.. Yang tadinya gak bisa senyum dan muka awut-awutan, saya langsung bisa senyum lebaaaaaar sekali. Saya sampai mengucapkan terima kasih berkali-kali pada dokter :) kemudian Bidan pun mengecek pembukaan lagi, dan Alhamdulillah sudah masuk pembukaan 3. Badan pun sudah cukup puguh dan akhirnya bisa makan sedikit :) 

Pukul 15.30 CET 
Saya mulai mual dan voila, entah berapa kali saya muntah. Tapi ya demi anak ya, habis muntah ya makan lagi aja terus tapi keluar lagi, tapi makan lagi hehe.. Kemudian.. ada beberapa suster datang ke ruangan dan berkata "maaf, Anda harus pindah ruangan." APA? atuhlah... Akhirnya saya dipindahkan ke ruangan lain, yang tidak kalah besarnya dengan ruangan sebelumnya. Beberapa saat kemudian, mules terasa lagi dan sangaaaaaat kuat. Bidan dengan sigap menghubungi dokter anestesi lagi.


Pukul 17.00 CET
Dokter anestesi pun datang. Tapi saya bingung, kok bukan yang tadi ya? Ah, mungkin shiftnya sudah ganti. Dokter mengira saya sedang bernyanyi padahal saya berdzikir dengan suara yang cukup keras, untuk menahan kontraksi yang demikian hebatnya. Epidural pun diberikan lagi dan Alhamdulillah, setelah dicek ternyata sudah pembukaan 5. Half way to go. Sesekali suster datang untuk mengecek ginjal saja. Olala, itu dia efek samping dari epidural, saya jadi gak tahu kapan harus buang air kecil sehingga saya harus dipasang kateter. Selain itu, bidan pun sudah mewanti-wanti ke saya dan suami
"Karena ketuban sudah berwarna hijau, jadi nanti sesaat setelah bayi lahir, bayi akan langsung dibawa ke ruang dokter anak ya untuk diperiksa. Kami ingin memastikan bayi Anda dalam keadaan sehat. Jangan khawatir ya." 
To make long story short..

Pukul 21.00 CET
Bidan : "It is already 10 cm. You have to push now."
Pukul 21.20 CET
Akhirnya, saya mendengar tangisan itu. Rasa bahagia dan haru jadi satu :') Bidan pun menawari suami untuk menggunting tali pusar sang bayi. Kemudian, bayi langsung dibawa ke ruang dokter untuk diperiksa. Dia menangis keras sekali. Suami pun turut pergi ke ruangan dokter anak dan masya Alloh tangisannya terhenti seketika saat sang bayi mendengar suara suami.
Alhamdulillah kondisi bayi sehat, dan bayi dibawa lagi ke pangkuan saya. Proses IMD dimulai sambil Bidan menjahit bekas lahiran. Tidak terasa apa-apa, tidak terasa sakit sama sekali. Masya Alloh Alhamdulillah, saya yang serta merta berdoa supaya lahiran gak sakit, memang lahiran tidak terasa sakit sama sekali. Setelah proses IMD selesai, barulah bayi diukur panjang dan beratnya.  Pada dasarnya jika kondisi ibu dan anak sudah sehat, maka rumah sakit akan langsung memperbolehkan ibu dan anak pulang. Namun, hari sudah cukup malam sehingga kami diperbolehkan menginap di rumah sakit. Kami pun pindah ke ruang inap dan istirahat. Bayi pun tidur satu ruangan bersama Ibu. Sementara Ayah tidur di sofa.


Esok harinya, pukul 08.00 CET
Suster datang mengecek keadaan kami dan berkata "sudah oke semua, kamu harus mandi ya. Terus jam 10 harus sudah pulang ya." Baiklah... Habis mandi dan juga beres-beres, kami pun langsung menelepon taxi dan memberi tahu kraamzorg untuk segera stand by di rumah.

Sesaat sebelum pulang, kami sempat meminta suster untuk memotret kami, hehe.. :)

Baca Juga : Cerita Menyusui dan Menyapih Dinara


Beberapa pekan sebelum due date, saya dan suami sepakat memberi nama anak kami dengan inisial DNA. Mengapa? Mungkin itu adalah irisan dari studi yang sedang saya dan suami tekuni saat ini. Saya yang sedang belajar biokimia dan suami saya yang mempelajari tentang polimer. nah, apa ya polimer dalam biokimia? Diantara polipeptida, DNA, atau RNA, Kami pilih DNA. DNA yang double stranded, stabil dalam kondisi ekstrim sekalipun dan tidak mudah terdegradasi. Terdengar cukup nerdy ya hehehe. Tak apa, supaya jadi kenang-kenangan buat Dinara kalau dulu Dinara dilahirkan saat orangtuanya sedang merantau untuk studi 😊 But anyway, dialah DNA kami, Dinara N. Adharis.

Terimakasih ya Nak.. Terimakasih sudah mengerti akan kondisi Ayah dan Ibu selama ini. Maaf kalau saat weekend dan hari libur Ayah atau Ibu kadang-kadang masih harus pergi ke Lab.. Terimakasih atas kooperativitasnya selama 5 tahun ini ya, Dinara sayang.  Maafkan Ayah dan Ibu yang kadang masih harus berkutat dengan thesis saat di rumah. Semoga Dinara semakin sholehah, menjadi penyejuk kedua hati Ayah dan Ibu, yang kaya akan ilmu, hati dan pengalaman. Semoga Dinara menjadi wanita yang bahagia hidupnya di dunia dan juga di akhirat nanti. aamiin aamiin aamiin.. Ibu dan Ayah sayaaaaang sekali sama Dinara :')

5 tahun kemudian. Ibu, DNA dan struktur molekul DNA :)
Foto diambil di Science Museum Nemo, Amsterdam, 2018.
Read more >>>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik