Apple Pie


Resep ini untuk pinggan diameter 28 cm 

Bahan kulit:
350 gram tepung terigu
180 gram unsalted butter, dingin, potong kecil-kecil
1 butir telur
4 sdm air dingin

Bahan isian:
1 kg buah apel (saya pakai apel malang), kupas dan iris tipis
1 sdt cuka
1 sdt kayu manis bubuk
75 gram gula 
3 sdm dark brown sugar (bisa juga dengan gula palem)
1 sdm tepung maizena

Bahan olesan:
1 butir kuning telur

Cara Membuat Kulit Pie:
1. Aduk terigu dengan butter dingin hingga teksturnya seperti pasir (saya menggunakan food processor)
2. Tambahkan telur, aduk rata
3. Tambahkan air dingin sedikit demi sedikit, aduk jangan terlalu lama, cukup hingga adonan terbentuk menjadi bola
4. Bagi adonan menjadi dua, satu adonan nanti digunakan untuk kulit bawah, satu adonan untuk penutup pie
5. Simpan dalam lemari es kurang lebih 30-60 menit

Cara Membuat Bahan isian:
1. Dalam wadah, masukkan cuka dan apel yang sudah diiris-iris. Aduk hingga rata
2. Masukkan gula pasir, brown sugar dan kayu manis. Aduk rata dan diamkan di kulkas kira-kira 30 menit hingga jusnya keluar.
3. Kemudian, tambahkan maizena dan aduk lagi.
4. Masak apel di atas kompor, hingga jus mengental dan apel cukup melunak. Sisihkan

Penyelesaian:
1. Siapkan oven dan panaskan dengan suhu 170 derajat Celcius.
2. Giling kulit pie menggunakan rolling pin dengan ketebalan kira-kira 1 cm dengan diameter melebihi diameter pinggan agar sisi pinggan dapat tertutupi adonan. Taruh kulit pie pinggan, rapikan dan tusuk-tusuk bagian dasar pie dengan garpu.


3. Taruh isian apel
4. Tutup bagian atas dengan kulit pie, rapikan dan beri lubang dengan mengerat bagian tengah pie menggunakan pisau
5. Oles bagian atas pie dengan kuning telur
6. Panggang pie dengan suhu 170 derajat Celcius selama 30-45 menit atau sampai kulit pie matang berwarna kuning kecoklatan (waktu pemangganggan disesuaikan jika pie lebih tebal dan jenis pinggan yang digunakan)
7. Angkat dari oven dan sajikan

Selamat mencoba ya ๐Ÿ˜„ Happy baking!

Jakarta, 10 April 2021
Amalina






Dealing with Dutch Tax Office after Back for Good to Home Country

Jakarta, May 2020

It has been several months that I've been back for good to Indonesia. However, even I have deregistered from the city hall, still.. I still got the letter that I don't like: A letter from the Tax Office.

So this is the chronology. In September 2019, we received a letter from SVB, asking about our leaving from the Netherlands. They sent us a form that has to be filled and we uploaded the filled form via mijnSVB on September 25th, 2019.

Then, at the end of November 2019, we received a letter from the Tax Office. It is written that we will get kindgebonden budget for 2020 and they mentioned that this decision based on the information from SVB. 

We do not want to receive any money both from the tax office and SVB since we are not in the Netherlands anymore. We tried to stop these coming surcharges via Mijntoeslagen, but we can't, without any explanation. 



We had no clue what to do, therefore we asked the secretary of my former department.

To make a long story short, she called a lady from the International Welcoming Center North and told her about my issue with SVB and the Tax office. Actually, she can not be of any assistance, but she advises us to contact Buro Buitenland.
However, she called the number above for me (very kind of her, isn't she ๐Ÿ˜‡) The officer of Biro Buitenland could see in my account of Mijn toeslagen that I have tried to stop it - not clear why I did not succeed but she will stop it for us.

She also called SVB to find out why they did not proceed with the form we have uploaded on September 25.

And voila, at some point they have not proceeded yet with the form we uploaded... and in a short time they proceed with this and inform the Tax office to not execute any more payments of both Kinderbijslag or/and Kindgebonden budget. 


After months, we didn't hear anything. Since we don't want to wait until the end of the year, therefore we called the tax office buitenland number via Skype with credit.

With a very bad signal of internet, we managed to get the reference number and the amount of money that we had to payback. A week after, we called them again to make sure that they got the money in their system before we close our Dutch bank account.

Finally, we feel very relieved (after months!) 

Regards,
Amalina

Persiapan Pulang Kembali (back for good) ke Indonesia

Sebenarnya postingan ini sudah ada di draft sejak tahun lalu, tapi baru sempat dirampungkan sekarang. Mungkin kurang lengkap jika dibandingkan dengan persiapan kepulangan di saat pandemi. Tak apa lah ya terlambat daripada tidak diposting sama sekali ๐Ÿ™. Semoga to-do list ini dapat membantu bagi yang akan back for good ke Indonesia dari Belanda.

***

Setelah sekian tahun, akhirnya sampai juga di titik ini: saatnya pulang. Ketika kita mau berangkat ke Belanda tentunya banyak persiapan yang kita lakukan. Tentunya ketika pulang pun perlu persiapan juga, bahkan dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Berikut adalah pengalaman kami menyiapkan kepulangan ke Indonesia setelah kurang lebih 6 tahun tinggal di Belanda. Saya tuliskan per point saja ya supaya mudah ๐Ÿ˜Š

1. Kontrak rumah

Apartemen yang kami sewa adalah dari pihak MVGM. Kami memberikan notifikasi kira-kira 2 bulan sebelum tanggal kepulangan kami, sehingga pihak MVGM ngeh dengan pembayarannya dan ada cukup waktu jika rumahnya akan diiklankan lagi. Well, semua dilakukan in advance dalam waktu yang cukup ya, namanya juga berurusan sama orang Belanda hehehehe, no no didadak dadak hehehe.

Ketika datang, apartemen diterima dalam keadaan kosong. Ketika pulang pun kita perlu mengosongkan apartemen, ya seperti saat kita terima. Tapi lain cerita kalau akan over contract apartemen seperti kami :) Ini cukup memudahkan urusan, apalagi jika calon tenant baru ini mau membeli furniture di dalamnya. Win win solution jadinya: kami tidak perlu mengosongkan seisi rumah seperti saat dulu kami terima dan calon tenant baru pun tidak perlu memikirkan isi rumah ๐Ÿ˜‰

Hanya saja.. pengalaman kami saat akan check out, petugas MVGM sampai heran dan hampir mau marah saat memeriksa rumah. Katanya Dia kesal, kok masih ada barang-barang. Kami jawab kan mau over contract ke tenant baru. Ternyata dia gak tahu dong. Yah jadinya ada missunderstanding deh haeu ๐Ÿ˜ต. Untungnya kami sudah ada pegangan surat tertulis antara saya dan calon tenant yang isinya persetujuan barang-barang apa saja yang akan Beliau takeover. Juga e-mail dari MVGM yang berisikan tentang take over sewa apartemen. 

Dari sini kami baru menyadari kalau bagian departemen termination contract dan departemen "check out" ini beda dan belum tentu mereka berkoordinasi ๐Ÿคจ

Proses beberes rumah ini paling menyita waktu dan tenaga. Apalagi di tengah hecticnya mengurus PhD defense kami berdua. Tapi Alhamdulillah keluarga dan para tetangga membantu sekali, terutama saat memindahkan barang dan angkat barang-barang yang mau dibuang.

2. Internet, Air dan Listrik

Urusan ini pun akan lebih baik dilakukan dari jauh-jauh hari. Untuk tagihan air (Waterbedrijf), kami memberikan notifikasi online. Untuk listrik, kami memberikan notifikasi pada pihak Essent lewat telepon. Untuk provider internet (dulu pakai tele2), kami mengirimkan modemnya kembali ke pihak tele2 dan kami memberikan notifikasi sekitar 2 pekan in advance kalau tidak salah.

3. Deregister di Gementee

Ini penting lho, jangan sampai dilewatkan ya hehehe. Deregister ini bisa dilakulan secara online kok. 

4. Penghentian asuansi kesehatan

Sebenarnya sistem di Belanda sudah terintegrasi, jadi jika sudah deregister di Gementee maka akan otomatis juga deregistrasi asuransi kesehatan, namun perlu diingat : it takes time dan bisa saja akan dapat invoice lagi hehe.

Karena kami berpikir "selagi masih di Groningen, lebih baik diurus saja biar ga ribet nantinya", jadinya kami menghubungi pihak asuransi kesehatan, dalam hal ini Menzis. Kami menghubungi Customer service Menzis via whatsapp di nomor ini : +31613513636.

6. Ov chipkart

Jangan lupa untuk berhenti berlangganan OV Chipkart ya, waktu itu saya menelepon Customer service OV Chipkart dan meminta berhenti berlangganan dengan alasan back for good. 

7. Belastingdienst dan SVB

Ini super penting. Selesaikan urusan perpajakan ya. Jika sebelumnya menerima subsidi dari kantor pajak misal child budget dll, bisa dilakukan dengan di web mijnbelastingen ๐Ÿ˜‰

8. Legalisasi ijazah

Setelah menerima ijazah, Kami langsung mengurus legalisisasi dokumennya untuk nanti dilakukan penyetaraan ijazah di DIKTI. Ada yang bilang penyetaraan ini tidak perlu dilakukan. Namun lagi lagi, prinsip kami mah mumpung masih di Belanda dan masih bisa diurus di Belanda, kami lakukan saja. Khawatirnya nanti pas di Indonesia malah butuh. 


Kami mengurus legalisasi ijazah ke DUO, untungnya kantornya di Groningen jadi gak jauh. Setelah dilegalisasi di DUO dilanjut diproses legalisasi lagi ke KBRI Den Haag. 

Setelah beres urusan ini, baru diajukan penyetaraan ijazah ke DIKTI sesaat kami tiba di Indonesia.

Jika memiliki anak yang lahir di Belanda, jangan lupa juga untuk legalisasi aktenya, bisa dilihat di postingan ini. 

Baca Juga: Legalisasi Akte Kelahiran Anak di Belanda

9. Kirim paket via ekspedisi

Mengirimkan barang via paket ini pun cukup menguras tenaga dan waktu. Ada rasa galau saat beberes. Galau apa? Ya galau "duh ini dibawa ga ya.. sayang deh kalau ga dibawa" ๐Ÿคญ

Paket yang kami kirim sebagian besar berisi buku-buku cerita Dinara (ini kayanya sampai 2 box besar sendiri hehehe) dan peralatan dapur ๐Ÿ˜† 

Oh iya, akan lebih baik kita menyertakan surat pindah dari KBRI kepada ekspedisi yang digunakan (jika mengirim box relatif banyak) supaya nanti tidak bermasalah saat paket sampai di bea cukai. Ekpedisi pengiriman paket ini macam-macam lho. Sejauh ini kami pernah menggunakan jasa ekspedisi Pulang Kampung, Tegar Mulya dan Prioritas Logistic. Saat pulang back for good kami menggunakan jasa dari Prioritas Logistic. Kira-kira barang sampai di Indonesia kurang lebih dalam kurun waktu 3-4 bulan. 

10. Deaktivasi rekening Bank

Baiknya saat kita meninggalkan Belanda for good, akun bank juga harus dideaktivasi. Namun, kami sedikit ragu karena kami masih menunggu pengembalian uang heater dari MVGM (biasanya pengembalian ini saat akhir tahun dan kami pulang saat summer), pengembalian uang listrik (karena pola kami dari tahun ke tahun kami selalu dapat pengembalian karena bayar kelebihan) dan juga final calculation dari kantor pajak Belanda. Jadi, setelah kami konsultasi dengan pihak Bank (dalam hal ini Rabobank), win win solutionnya adalah: rekeningnya di freeze dulu dalam artian bisa cek saldo rekening tapi tidak bisa melakukan transaksi. Saat kami mendapatkan nominal pengembalian tsb dalam rekening, kami segera memberi notifikasi ke pihak Bank rekening akan diaktifkan dalam jangka waktu tertentu supaya kami bisa mentransfer uang tersebut. Setelah saldo di rekening nol maka kami memberikan notifikasi kepada pihak Bank untuk menutup akun rekening.

11. Menghabiskan poin kartu member supermarket

Jika memiliki poin pada bonuskaart Albert Heijn, kartu Kruidvat, dan kartu Etos, jangan lupa dihabiskan dulu ya hehehehe ๐Ÿ˜Œ #ibuibugakmaurugi

12. Pamitan

Yap, setelah beberes, tidak lupa kami berpamitan pada tetangga dan juga komunitas Indonesia di Groningen ๐Ÿ˜‡

Berfoto dulu di depan apartemen sebelum ke airport. Tot ziens, Groningen! ๐Ÿ˜ƒ


Demikian persiapan untuk back for good kami ke Indonesia. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat ๐Ÿ˜ƒ

Salam,

Amalina

Stand Up for Yourself


Curhat sedikit, semoga dengan ditulis bisa jadi proses healing juga. Kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu tapi tetep bikin saya merinding kalau teringat.

Cerita ini saat saya masih menjalani program PhD. Saya sempat merasa sedih ketika ada kolega saya yang resign dari PhDnya dengan alasan “ingin mengurus anak” padahal PhDnya sudah setengah jalan. Saya sangat menghargai keputusannya, karena saya juga mengerti bagaimana sulitnya menjalani dua peran ini : sebagai mahasiswa dan sebagai Ibu di perantauan.

Dan, ternyata saya kena impactnya. Bapak Bos jadi lebih ketat pengawasannya. Ada suatu masa ketika saya ikut course (jadi tidak bisa ke Lab), tapi bapak Bos mengira saya bolos dari lab. Saya mau pergi konferens dengan membawa keluarga tapi malah dianggap mau liburan. Ampun deh.. disuudzonin itu ga enak banget rasanya, apalagi sama Bos sendiri. Saya jadi bingung kan. 

Ada suatu masa di mana saya merasa  sangat tertekan, harus selalu melakukan yang terbaik. Kolega saya bahkan mengatakan:

"If you are a student, you have to be good. But if you are a mom, you have to be very good. You know what I mean, Amalina?"

Sedih? Tentu.

Jackpotnya adalah.. project saya adalah project yang sangat tricky banget, saya ingat ketika introductory program, salah satu Profesor berkata kalau project saya ini "cukup berani".

Belum lagi Bos saya ini kalau mau publish jurnal harus di jurnal Q1 dan bukan sembarang Q1 alias maunya jurnal tertentu saja. Kalau gak Q1 ya Beliau mending gak mau publish.

Teman-teman dari grup sebelah kan mana tahu ya yang begini-begini. Mereka hanya tahu "selama S3 udah publish berapa paper?" Nyess banget rasanya.

Gerutuan sering kali menghampiri pikiran. Kenapa saya harus ngerjain projek ini? Kenapa saya kebagian projek yang susah? Kenapa saya masuk grup penelitian ini? Kenapa Bos saya kaya gini sih? Kenapa dan kenapa dan kenapa lainnya.

Dari situ lah saya jadi lebih termotivasi untuk menunjukkan kalau “maaf, anggapan Bapak tidak benar.” Kadang saya pernah merasa ingin mendapatkan impresi yang bagus dari supervisor. Saya kerja terus labwork terus. Lagi-lagi berbagai omongan 'nyelekit' lainnya dari Bos mendarat saat meeting evaluasi tahunan. You know Dutch is really direct hehehehe. Sebagai orang Sunda yang "iya, mangga mangga, nyanggakeun", hal tersebut gak bisa banget diaplikasikan. in order to be polite, eh malah dikira lemah and incapable to do things *sakitjendral*

Salah satu kolega saya mengingatkan "kamu yang penting kerjakan yang betul dan yang terbaik. Kamu kerjakan ini untuk kebaikan kamu sendiri, bukan buat Bapak Bos."

Iya betul juga. Saya harus mengerjakan tidak hanya studi saya saja, tapi juga semua kegiatan dengan lillah. Dengan niat untuk Alloh. Selama ini apa sih yang selalu membuat kecewa? Perkataan seseorang? Pernyataan seseorang? Bukan. Bukan itu, tapi ekspektasi dari diri kita lah yang kadang menyakitkan.

Saya tidak tahu pasti, namun barangkali ini lah yang Alloh ingin katakan pada saya: start to stand up for yourself, Na. 

Alloh Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui - potongan surat Al-Baqarah ayat 216.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Jakarta, 21 Februari 2021
Amalina

Rehat Sejenak


Akhir tahun begitu hectic dan sibuknya saya (juga suami). Mulai dari pekerjaan di lab dan mengandle projek tambahan terkait dengan Covid-19 plus plus soal pindahan rumah (no more nyewa insya Allah ๐Ÿ˜‡). Saya mengerti dan paham sekali mengenai deadline yang harus dipenuhi. Tapi kok rasanya saya megap-megap, seperti ikan yang keluar dari kolam yang sedang mencoba mengambil nafas. 

Hari-hari dilalui dengan rutinitas pulang kantor saat matahari sudah tidak terlihat, dilanjut mengurus dua anak lalu saat anak-anak sudah tidur saya meneruskan pekerjaan di rumah. Kadang masih ngulik pekerjaan sampai jam dinding menunjukan pukul 02:00 dini hari. Belum lagi tidur dengan mimpi yang berkaitan dengan pekerjaan dan paginya mulai lagi dengan ritme yang sama. And I was there thinking, "am I a robot?" Hmm.. Kalau ibarat saya adalah minyak, barangkali saat itu saya adalah minyak yang sudah overly saturated >.< 

Baik... nampaknya sudah tidak sehat nih. Untuk menetralkannya, saya mengajukan untuk rehat beberapa hari pada periode libur Natal-Tahun Baru. Otherwise I am gonna explode and disfunction, hehehe gawat kan kalau gitu ๐Ÿคซ Si Kakak pun pas saat libur sekolah. Kami manfaatkan kesempatan ini untuk ke Bandung, tentu saja di Bandung tidak serta merta leha-leha saja karena.... harus mengurus pindahan dan juga mengambil akte kelahiran baby Amanda ke Disdukcapil. Sibuk juga dong? Iya hehehehe, tapi at least saya tidak memikirkan pekerjaan dalam sementara waktu.

Ke Bandung tidak lengkap tentunya tanpa wisata kuliner. Tapi saat new normal begini daan juga saya-nya riweuh beberes rumah, barang-barang untuk dikirim ke Jakarta, wes.. wisata kulinernya di rumah aja. Thank you Mang GrabFood dan Mang GoJek, saya masih bisa kulineran sambil beberes :)

Batagor Riri :) Saya beli kemasan vakum biar digoreng sendiri di rumah. Nyum!

Bubur Mang Oyo! Favorit sejak jaman kuliah di kampus Gajah :)


Pempek Rama

Lumpia Basah. Saya beli yang isinya baso, sosis, telur, makaroni dan kuetiaw. hahaha, no wonder judul lumpianya "Lumpia Basah Kapten". Siap, kapten! :)

Mie Baso Akung BPTS alias Baso Pangsit Tahu Somay. 1 porsi cukup besar, langsung wareg :)

Bonus foto : Huru-hara Pindahan hahaha


Setelah selesai urusan di Bandung, segera kami kembali ke Jakarta :) Alhamdulillah, rehat ini menyegarkan pikiran yang somehow semerawut. And randomly one quote just popped up in my head:

"Doing nothing usually leads to the very best something." - Winnie the Pooh on Christopher Robin Movie, 2018

Seringkali rehat ini dilupakan, apalagi pada lingkungan dimana apresiasi diberikan kepada yang bekerja tiada henti. Saat rehat, badan terasa lebih bugar, gak gampang emosian karena pikiran ga begitu "ngebul", dan bahkan lahir ide-ide baru (Aha!)

Anyway, selamat kembali beraktivitas di tahun 2021 ini.  Stay safe, stay healthy and the most important thing, stay sane :) 



Jakarta, 3 Januari 2021

Amalina