Saturday, February 17, 2018

Sekilas tentang Taman Kanak-kanak di Belanda

Sekolah Dasar di Belanda atau Basisschool memiliki 8 kelas (biasa disebut dengan 'groep') yang terdiri dari Groep 1 (anak umur 4 tahun) sampai Groep 8 (12 tahun). Pemerintah Belanda mewajibkan anak untuk mulai sekolah saat berumur 5 tahun (Groep 2) tapi hampir seluruh anak di Belanda memulai sekolah dari Groep 1. Apabila disamakan dengan sistem pendidikan di Indonesia, Groep 1 setara dengan TK A, groep 2 setara dengan TK B, dan groep 3 setara dengan kelas 1 SD.

Karena disini budayanya segala in advance, maka kami pun mulai melakukan survey sekolah saat Dinara berumur 3 tahun. Setelah melakukan kunjungan dan melakukan berbagai pertimbangan (hehe), kami memilih salah satu sekolah dan melakukan pendaftaran. Kami mendaftarkan Dinara kurang lebih 3 bulan sebelum ulang tahun Dinara yang ke 4. Saat itu, kami hanya mengisi formulir dan tidak membayar biaya apapun. Beberapa hari setelah itu, kami mendapatkan e-mail dari sekolah untuk jadwal intake/trial sebanyak dua - tiga kali. 

Baca juga : Survey Sekolah Anak

Disini anak-anak tidak menggunakan seragam, pakaiannya bebas tetapi sopan.  Hari pertama intake pun tiba. Dinara terlihat agak overwhelmed dengan tempat baru dan suasana baru. Satu kelas terdapat 22 anak, tidak seperti di daycare (max 15 anak). Alhamdulillah, anak tetangga kami, Almira, satu kelas dengan Dinara jadinya Dinara merasa ada teman hehehe.. Intake pertama membuat saya bangga sekali.  Meskipun hanya setengah hari (08:30-12:00) tapi Dinara tidak menangis atau pun cranky.


First day intake : membuat pohon hias dan mewarnai gambar pohon. Saat itu tema kelasnya adalah Natal
Waktu sekolah seperti pada umumnya yaitu hari Senin hingga Jumat, dimulai pukul 08:30 hingga pukul 14:00. Pintu sekolah dibuka pukul 08:20. Juf (baca : Yuf, artinya guru) sudah stand by di depan pintu kelas menyambut kedatangan anak-anak. Anak-anak mengantri bersalaman dengan Juf sambil berkata "Goedemorgen Juf.." (artinya selamat pagi, Ibu Guru) .Orangtua boleh mengantar masuk ke kelas namun hanya sampai 08:30 saja. Gerbang utama sekolah akan ditutup pukul 08:30 sehingga apabila terlambat harus lewat pintu samping dan jalannya cukup memutar, jadi.. ya jangan sampai terlambat :) Sekitar pukul 10:00 adalah waktu break yaitu waktu anak-anak makan buah bersama-sama di kelas. Setiap anak membawa bekal buah dan juga bekal makan siang dari rumah. Di sekolah tidak ada kantin, apalagi mamang mamang tukang jajan πŸ˜… Adapun jam makan siang adalah pukul 12:00 di kelas masing masing. Anak-anak makan sendiri dan diajar mandiri sejak dini. 

Suasana sekolah jam 08.30. Anak-anak siap masuk ke kelas masing-masing



Bekal sekolah Dinara: roti, buah dan susu. Simpel sekali kaan :) 

Di sekolah Dinara, untuk kelas TK dibagi menjadi tiga yaitu kelas De Vlidertuin (kelas kupu-kupu), Het Berenhool (kelas Beruang) dan De Kikkersloot (kelas Katak).

Kegiatan di kelas
Sekolah ini menggunakan metode Dalton (untuk lebih jelasnya mengenai metode Dalton bisa dilihat di link ini) yang berbasiskan dalam 3 hal yaitu independency, freedom & working together. Kursi duduk anak di kelas dibuat melingkar dan setiap anak memiliki kursi sendiri (ditandai dengan stiker yang bertuliskan namanya). Setiap hari posisi kursinya diacak dan diatur oleh Juf  supaya anak-anak saling mengenal (mungkin juga supaya tidak pilih pilih teman ya hehe..) Juf nya juga duduk dalam lingkaran yang sama dengan anak-anak. Anak yang duduk di samping kanan dan kiri Juf saat hari itu (helper van de dag) adalah anak yang akan bertanggung jawab untuk membantu Juf dan jadwalnya digilir, setiap anak pasti kebagian. Hmm mungkin sama seperti ketua kelas di Indonesia ya hehe.. sehingga sedari kecil anak diajari tanggung jawab.
Kegiatan dimulai dengan bernyanyi kemudian anak dipersilahkan bertanya ke Juf tentang apapun namun sebelumnya harus mengacungkan tangan kanan terlebih dahulu dan anak-anak lain mendengarkan. Alhamdulillah anak jadi dilatih berani berbicara di depan teman-temannya. Oh iya, selalu saja ada tema untuk kelasnya. Misalnya tema winter, spring, carnaval, autumn dan lainnya sehingga kegiatan di kelas disesuaikan dengan tema.


Suasana kelas (video dari Youtube, diupload oleh pihak sekolah)

Secara umum sekolah di Belanda gratis namun setiap sekolah dapat memungut biaya untuk kegiatan tambahan. Biaya sekolah Dinara adalah sebesar 47 euro per tahun dan ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan di sekolah misalnya kegiatan pentas akhir tahun dan juga school trip. Tidak ada uang pangkal, uang bangunan, uang buku atau uang yang lain karena sudah disubsidi oleh pemerintah Belanda.


Suasana saat menjemput anak. Orangtua sudah menunggu di pelataran sekolah sebelum pukul 14:00. Anak-anak keluar tepat pukul 14:00.
Untuk sekarang sekian dulu cerita mengenai TK di Belanda. In sya Alloh yang berkaitan dengan kegiatan sekolah akan ada di postingan berikutnya :)


Tulisan ini saya dedikasikan untuk Dinara. Semoga ketika Dinara sudah besar Dinara masih bisa  mengingatnya :) 

Read more >>>

week #8 - week #9 Suzuki Book 1

Hello there!
Sorry for the delay in the progress report (Ha!). On week #8 I skipped the lesson since (again) the lab was very busy. I did also change the schedule for the lesson to Wednesday evening because it seems more convenient for these days. 
Anyway, starting this week I use this book: Suzuki Violin School volume 1, I just said to myself "Wow it's getting real. It's getting real.. can't wait to play Bach Minuet 1.." 

I bought the book from Book Depository. This picture is taken from here
Last Wednesday I had a very nice time during the lesson. My teacher taught me the technique from song 1 - song 4 and also I start to use the fourth finger (!!!!)
Fortunately, I found some songs demo on youtube and it helped me a lot during practice. 





That's all for now. Wish me luck and may the fourth finger be with me! πŸ˜‰

Groningen, 17th of February 2018
Amalina
Read more >>>

Sunday, February 11, 2018

Lomie Kangkung a la Mambo

Bahan:
- Mi, rebus hingga matang
- 2 ikat kangkung, rebus hingga matang

Bahan kuah:
- 5 butir bawang merah
- 3 butir bawang putih
- 1 sdm ebi
- 100 gram fillet ayam
- 2 sdm saus tiram
- 2 sdm kecap asin
- 2 sdm kecap manis
- 750 mL air
- 2 sdm tepung tapioka, larutkan dengan sedikit air 
- Kaldu ayam bubuk *optional
- Garam dan merica secukupnya

Cara membuat kuah:
1) Rebus ayam sampai matang lalu suwir-suwir. Sisihkan kaldunya.
2) Haluskan bawang merah, bawang putih dan ebi. Tumis bumbu halus ini dengan sedikit minyak sampai harum dan masukan ke dalam kaldu ayam.
3) Tambahkan saus tiram, kecap asin dan kecap manis ke dalam kaldu. Aduk rata. 
4) Tambahkan garam dan merica, cicipi rasanya. Jika sudah pas, tambahkan larutan tepung tapioka sambil diaduk. (Kalau dirasa kurang kental, bisa ditambah lagi. Kekentalan sesuai selera 😁) 

Cara penyajian
1) Taruh mi dan kangkung di mangkuk.
2) Tuang kuahnya.
3) Tambahkan ayam dan pangsit ayam di atasnya.
4) Tadaaaaaaa siaaap disajikan 😎



Happy cooking!
Read more >>>

Wednesday, February 7, 2018

Umroh dengan Balita : Mekkah


Assalamualaikum! 

Setelah sebelumnya saya menuliskan tentang persiapan keberangkatan dan pengalaman selama di Madinah, akhirnya in sya Alloh ini akan menjadi postingan terakhir dan mungkin yang utama tentang umroh dengan balita

Bismillahirrahmaanirrahim, semoga Alloh menjaga niat saya menuliskan ini semata-mata hanya karena ingin merekap pengalaman saya dua bulan kemarin untuk referensi saya ke depan dan mudah-mudahan bermanfaat juga untuk teman-teman yang membacanya. OK, langsung saja ya :)

1. Berihram dan Perjalanan ke Mekkah
Siang itu setelah Dzuhur di Masjid Nabawi, kami bersiap untuk meninggalkan hotel Hayatt Madinah. Kami sudah berpakaian ihram dan naik bis rombongan menuju Masjid Bir Ali untuk mengambil niat umroh. Kira-kira dalam waktu 20-30 menit dari Madinah kami sudah tiba di Masjid Bir Ali. Kemudian, rombongan dibagi dua menjadi rombongan jamaah laki-laki dan rombongan jamaah perempuan  untuk sholat sunnah dua rakaat. Disana banyak sekali jamaah namun cenderung lebih tertib. Hanya saja, antrian untuk ke toilet sangat panjang. Harus sabar :) 

Tips #1 Pilihlah toilet jongkok karena cenderung antriannya tidak sepanjang antrian toilet duduk.

Masjid Bir Ali (gambar dari sini)

Setelah sholat dua rakaat, kami menuju bis dan kami melafadzkan niat umroh yang dilanjutkan dengan melantunkan kalimat tabliyah.

“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak"

Ma sya Alloh Allohu akbar.. Saya tak tahan menahan air mata.. It's getting real, gumam saya dalam hati. Para jamaah laki-laki secara bergantian melantunkannya lewat microphone di bis. Lantunannya cukup keras dan speaker bisnya berada tepat di atas kepala kami. Namun.. Saya tambah terharu melihat Dinara yang senang dan tidak menangis! Seperti yang pernah saya ceritakan disini kalau Dinara paling tidak tahan dengan suara keras. Jangankan suara sirkus, Dinara bahkan pernah menangis keras di masjid di Amsterdam karena lantangnya suara adzan dan suara imam.

Masya Alloh, Allohuakbar, Alhamdulillah.. ketika itu Dinara bahkan mengikuti kalimat talbiyah dan sempat tertidur pulas saat perjalanan. Meleberlah air mata saya.. Ampuni hamba yang  sudah khawatir berlebihan sebelum berangkat, Ya Alloh.. :') Dinara adalah makhluk ciptaan Alloh, dalam genggaman Alloh, sungguh tentu saja tidak sulit bagi Alloh untuk membolak-balikkan keinginan dan moodnya. 

Selama perjalanan, kami berhenti di sebuah rest area untuk sholat Maghrib dan membeli makan. Lagi-lagi saya membeli makan di Al Baik πŸ˜ƒdan memesan Chicken Nugget Menu supaya bisa dimakan di bis karena saat itu Dinara tertidur pulas.

Menu Chicken Nugget Al Baik (gambar dari sini)

Kami menghabiskan waktu hingga 2 jam di rest area karena menunggu jamaah yang lain sehingga kami baru sampai di hotel Al-Shohada Mekkah pukul 22.30. Kami mengambil bagasi dari bis dan check in dan Dinara masih tertidur lelap. Sementara itu rombongan pergi umroh pukul 00.30. Hmm.. Akhirnya kami memutuskan untuk ikut istirahat sambil menunggu Dinara bangun dan tidak pergi bersama rombongan. 

2. Tawaf, Sa'i dan Tahalul
Kami pergi umroh bertiga saja waktu Dhuha esok harinya dengan bekal buku catatan manasik, buku catatan doa dan buku saku (terimakasih banyak ya teh Monik buku sakunya, kepake banget πŸ˜Š) Setelah sarapan, kami siap berangkat untuk umroh. Dinara ceria sekali, "mau lihat Ka'bah" katanya.

Bismillah, siap berangkat
Sebelum berangkat, kami bingung antara mau bawa stoller atau tidak karena kami tidak tahu dimana tempat untuk menyimpan stroler disana. Lalu kami memutuskan Dinara menggunakan kursi roda karena berdasarkan pengalaman-pengalamam teman-teman yang juga umroh dengan balita, mereka menggunakan kursi roda untuk anaknya saat Tawaf dan Sa'i (terimakasih sarannya ya, Jazakumulloh khoiron..)

Kami bertanya ke respsionis apakah pihak hotel menyediakan kursi roda untuk dipinjam sementara. Sebenarnya ini iseng-iseng berhadiah saja sih, kalau ada ya syukur, kalau tidak ada ya tidak apa-apa. Masya Alloh Alhamdulilah.. ada yang mewakafkan yang kursi roda dan disimpan di resepsionis hotel sehingga kami tidak perlu menyewanya. Kami pergi ke Masjdiil Haram dari hotel kira-kira membutuhkan waktu 20 menit berjalan kaki. Oh iya, pintu masuknya khusus ke lantai 1 ya karena itu jalan khusus untuk jamaah berkursi roda.

Jalan masuk jamaah berkursi roda di Masjidil Haram
Momen yang paling mengharukan adalah melihat Ka'bah pertama kali, begitu magical.. Selama ini sholat menghadap Ka'bah dan saat itu Ka'bah ada di depan mata. Saya dan suami tak bisa menahan air mata haru :') Setelah berdoa, kami memulai ibadah tawaf. Di lantai 1, untuk 1 putaran tawaf kira-kira membutuhkan waktu 15 menit (dengan kecepatan jalan santai). Tempat dimulainya tawaf ditandai dengan adanya lampu hijau dan ada papan pengumuman yang bertuliskan "Tawaf starts here". Kami membutuhkan waktu 1,5 jam untuk menyelesaikan 7 putaran tawaf. 
Kemudian, kami lanjutkan dengan Sa'i. Letaknya dekat sekali dari tempat tawaf. Ada tulisan "to Masa'a" di lantai yang sama. Ikuti saja arahnya. Kami melakukannya di  jalur khusus untuk yang mengunakan kursi roda. Alhamdulillah berjalan dengan tertib dan lancar.. Kami selesai umroh pukul 11.30 dan langsung siap-siap untuk sholat Dzuhur berjamaah.

Sesaat selesai Sa'i
Setelah selesai sholat Dzuhur, kami cari barbershop di luar mesjid. Rata-rata harganya 10 Riyal untuk rambut botak hehe. Setelah tahalul, selesai sudah ibadah Umroh, Alhamdulillah berjalan dengan lancar.. :')

3. Tawaf Sunnah dan Sholat Berjamaah di Masjidil Haram

Alhamdulillah, setelah ibadah umroh, di hari-hari berikutnya kami sempat sholat berjamaah di Masjidil Haram. Kami tidak menggunakan kursi roda lagi karena kami menemukan tempat parkir untuk stroller yaitu di sebelah kiri dan kanan pintu gerbang no 1 King Abdul Aziz Gate. Jangan taruh stroller sembarangan ya karena (katanya) suka ada sweeping. Saya pernah mendengar beberapa cerita tentang kehilangan stroller di Masjidil Haram. Mungkin itu bukan hilang tapi menyimpan di tempat yang salah sehingga disweeping sama petugas karena kan butuh tempat untuk tempat sholat banyak jamaah :) 

Tempat Parkir Stroller Masjidil Haram

Karena Masjdiil Haram besar sekali, saya merekomendasikan teman-teman untuk mengunjungi blog ini : Navigate thru Masjidil Haram supaya ada bayangan tentang kondisi disana.

Tips #2 Untuk sholat berjamaah di Masjidil Haram, kurang lebihnya sama seperti di Masjid Nabawi. Kami mencari tempat sholat untuk saya atau mencari meeting point dulu, lalu setelah sholat kami janjian disitu. Setelah sholat Maghrib, kami menunggu Isya, bisa diam di masjid atau jalan-jalan ke Clock tower karena ada mall disana supaya sekalian mencari makan malam hehehe. Untuk sholat Maghrib dan Isya, Dinara suka sekali sholat di lantai paling atas karena cenderung tidak penuh.  Karena spacenya luas jadi bisa lari-lari deh dan banyak anak kecil juga, nambah teman deh πŸ˜ Kalau waktu Dzuhur dan Ashar lumayan terik sehingga kami memilih untuk sholat di dalam masjid.

Lantai 4 Masjidil Haram

"Ibu, aku senang disini.."

Alhamdulillah kami juga sempat mengerjakan tawaf sunnah. Beberapa kali Dinara ikut namun ada juga saat Dinara tidak diajak karena kecapekan, sehingga jadinya kami gantian lagi deh hehe (seperti tag team saja ya). Kami tawaf di lantai paling bawah (dekat dengan Ka'bah). Untuk menuju kesana harus melewati gerbang no 94 dan ada lagi gerbang no berapa ya aduh maaf saya lupa, namun lokasinya sebelah kiri gerbang King Abdul Aziz Gate. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di link ini  (it's not my vlog haha, I found it and I think it's very useful so I put it here). Saat kami bertiga tawaf di bawah Alhamdulillah Dinara bisa menyelesaikan 2 putaran tawaf. Setelah itu, Dinara digendong Suami. Karena tawafnya di dekat Ka'bah, tentu jaraknya jadi lebih pendek sehingga kami hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikannya. Namun jika hari Jumat, ma sya Alloh, jamaahnya lebih banyak dan padat sehingga kami membutuhkan waktu 1 jam.

Setelah selesai tawaf, minum air zam-zam dulu

3. Ziarah di Mekkah. 
Rasanya tidak lengkap jika sudah pergi ke Mekkah namun tidak melakukan ziarah. Sayangnya travel yang kami ikuti tidak ada agenda untuk ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Mekkah. Akhirnya kami menggunakan taxi kenalan dari teman. Supir taksinya berasal dari Pakistan, namanya Pak Rahmat. Beliau bisa berbahasa Inggris dan bersedia untuk memandu kami ke tempat-tempat berikut. 

Di Jabal Nur lokasi Gua Hiro

Di Jabal Tsur

Di Jabal Tsur

Di Jabal Rohmah


Di Jabal Rohmah

Di Depan Tempat Lempar Jumrah

Di Mina
Saya merasa dengan menggunakan taxi menjadi lebih fleksibel karena tidak usah saling tungggu, apalagi kalau sambil membawa balita yang kadang "cepat bosan" 😈 Kami tidak terlalu berlama-lama di setiap tempat ziarah, paling lama 10-15 menit. Pak Rahmat juga sangat ramah dan mampu menjelaskan juga tentang sejarah tempat yang kami kunjungi. Kami puas dengan pelayanannya dan harganya sangat affordable. Apabila teman-teman berminat menggunakan jasanya, silahkan kontak saya via e-mail, nanti akan saya beri nomor kontak Whatsapp Pak Rahmat. 

Rindu Baitulloh :')

Ada foto bertiga yang gak selfie hehehe Alhamdulillah ada jamaah yang berbaik hati menawarkan diri untuk memotret kami.. Jazakalloh khoiron :)
Alhamdulillah, atas rahmatNya selesai juga tulisan ini. Semoga Alloh mengundang kita semua untuk berkunjung kesana (lagi) bersama dengan keluarga dan orang-orang tercinta, aamiin.. Semoga pengalaman dan tips-tips di atas bisa bermanfaat dan dapat membantu teman-teman ya :)
Read more >>>

Thursday, February 1, 2018

Bullet Journal Monthly Spread : Februari 2018

Halo semuanya! 
Setelah postingan saya tentang mengapa saya memulai membuat bullet journal, kali ini saya mau berbagi monthly spread Februari versi saya :) 

Monthly log and gratitude list
Monthly log di atas terinspirasi dari akun instagram @bujo_blossoms. Dengan adanya gratitude list di sebelahnya, mudah-mudahan saya bisa lebih fokus terhadap nikmat yang diberikan olehNya, aamiin :)

Practice journal dan Weekly log
Blog ideas log dan Violin Practice Journal
Morning routine tracker
Resolusi 2018 : menjadi lebih baik lagi bukan hanya urusan duniawi, namun juga untuk bekal di akhirat nanti :)  Semakin kesini saya merasa bahwa ini adalah sebuah kebutuhan saya, semacam nutrisi bagi hati saya.  Pengalaman saya pada bulan-bulan kemarin, kalau sekiranya ada yang salah dengan saya misalnya hati tidak tenang, bawaannya kurang enak, atau kurang sabar dengan anak, saya langsung bisa dilihat di tracker amalan harian ini. Dan... jeng jeng jeng..  Biasanya jawabannya ada disitu πŸ˜–  Entah ada amalan yang terlewat sampai berhari-hari atau apapun itu.  

Semoga dengan adanya tracker ini bisa membuat saya lebih bersemangat dan saya bisa istiqomah. aamiin.. :)

Well, that's all for now. Semoga bermanfaat untuk teman-teman ya! :) 


Read more >>>

Wednesday, January 31, 2018

week #6 - week #7 The Bow Grip

Hello there!

It has been a while I did not update my violin progress. I was on holiday for 2 weeks, I went to Medina and Mecca! It was so magical :') Before I went for the holiday, I would like to join the collaboration project of Marijke which is the worldwide Star Wars collaboration. Unfortunately, I could not make it. ah, jammer. I hope I could join for the next collaboration πŸ˜‰

A week after I came back from holiday, I managed to start again the lesson, more to do practice on the scales and also the dynamics, and yes I'm still sticking to my practice journal. It helped a lot :) I also changed the position of my bow grip. I put the video down below.




Anyway, that's all for now. Wish me luck! 

Groningen, 31st of January 2018
Amalina
Read more >>>

Monday, January 22, 2018

Umroh dengan Balita : Madinah

Assalamualaikum!

Alhamdulillah, setelah postingan saya sebelumnya yaitu tentang persiapan dan packing list sebelum keberangkatan, kali ini saya akan melanjutkan cerita perjalanan umroh kami bersama balita. Bagian 2 ini akan menceritakan tentang pengalaman kami di Madinah.
Langsung saja ya :)

Kami berangkat dari Schiphol Amsterdam pukul 15.00, kemudian kami transit di Cairo jam 10 malam dan sampai di Madinah pukul 4 pagi keesokan harinya. Sampai di bandara Madinah, antrian imigrasi panjang sekali. Seketika saya berdoa semoga Dinara anteng dan tidak bosan. dan Ma sya Alloh... begitu rombongan kami datang, petugas bandara membuka loket imigrasi baru dan kami tidak harus menunggu lama.  "Alhamdulillah, rejeki kamu, neng..." sambil mengusap Dinara. Setelah melalui proses pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, kami menuju hotel dan sampai di hotel sekitar pukul 06.30 pagi. Kami langsung sarapan dan istirahat di hotel (hehe iya kami hanya tidur beberapa jam saja selama di perjalanan) sehingga saat siang hari kami siap ke Masjid Nabawi. Meskipun kami pergi dengan rombongan Diwan Travel, but most of the time we spent our time just the three of us. Menurut kami lebih flkesibel seperti ini, jadi tidak usah saling tunggu yang lain :)

Tukar uang dan beli SIM Card
Di hari pertama kami di Madinah, hal yang kami lakukan adalah menukar uang. Di sela waktu sholat, kami mencari money exchange yang dekat dari hotel. Alhamdulillah, ratenya cukup baik. 1 euro kira-kira 4.4 riyal. Kalau pun mau ambil uang dari ATM juga bisa. Setahu saya, bank Alinma dan bank Al Rajhi tidak mengenakan charge Alhamdulillah. Kemudian kami membeli SIM Card. Pilihannya banyak namun SIM Card yang kami beli adalah Mobily karena counter yang terdekat dari hotel ya itu hehehe.. Harga 75 Riyal sudah termasuk SIM card yang diisi dengan  paket internet 2 GB dan pulsa telepon 25 Riyal. 

Sholat berjamaah di Masjid Nabawi 
Alhamdulillah, selama 6 hari di Madinah, kami bisa mengikuti hampir seluiruh waktu solat berjamaah di Masjid Nabawi. Tapi untuk sholat subuh, saya selalu sholat di hotel karena Dinara masih terlelap tidur. Kasihan juga kalau dipaksa bangun :) Jadi yasudah Ayahnya saja yang ke masjid. :) Pintu gerbang untuk tempat sholat perempuan dimulai dari pintu no 29. Kalau dari arah datang dari hotel Hayatt International, pintu masuk terdekat dari hotel adalah pintu no 37 sehingga butuh cukup waktu untuk berjalan plus mencari tempat untuk sholat :)

Tips #1 Usahakan sudah berada di Masjid 10 menit sebelum adzan supaya tidak terburu-buru dan anak juga senang bisa pilih-pilih tempat sholat.


Sholehah terus ya Dinara..

Keluarga Adharis di Masjid Nabawi, Alhamdulillah Alhamdulillah..

Kan disana orangnya banyak sekali. Kalau terpisah, terus janjian ketemuan dengan suami bagaimana?

Sebelumnya kami menentukan dulu meeting point sebelum kami pergi ke tempat sholat kami masing-masing, misalnya di depan pintu no 35 atau di dekat screen sebelah tempat mengambil air minum dekat tempat sholat wanita. Kami pun ganti-gantian pegang Dinara. Misalnya kalau maghrib Dinara sama saya, berarti ketika Isya Dinara sama ayahnya. Ya diatur-atur begitu hehehe..Untuk tempat sholat, tentu saya lebih senang sholat di dalam masjid. Namun Dinara nampak lebih senang sholat di luar, mungkin sambil menunggu kami sholat sambil melihat langit. hehe. Tak jarang banyak anak kecil juga yang sedang menunggu orangtuanya sholat sehingga Dinara nambah teman baru deh. 
Karena jarak waktu sholat Maghrib - Isya cukup sebentar maka kami memilih untuk menunggu di pelataran masjid, sambil tilawah atau main dengan Dinara sehingga kami makan malam either sebelum maghrib alias jam setengah 6 sore atau setelah Isya sekalian. Itu sih buat orangtuanya aja ya.. Untuk Dinara, saya selalu siapkan bekal setiap kami pergi sholat berjamaah ke mesjid.


Ziarah ke Masjid Quba, Uhud dan Kebun Kurma
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang telah bersuci (berwudhu di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya sama dengan pahala umrah." (Sunan ibn Majah, no 1412).
Keutamaannya tinggi sekali ya.. Pada saat kami kesana, tempat sholat bagian perempuan penuh sekali. Untuk memasukinya saja cukup sulit. Dinara pun harus saya gendong dan ikut serta berdesak-desakan. Kala itu Saya tidak ada bayangan sama sekali akan banyaknya jamaah perempuan yang masuk. Tapi Alhamdulillah Alhamdulillah, Allohu akbar, Dinara tidak menangis dan sabaaaaar banget :') 

Tips #2 Sebelum ke tempat sholat masing-masing, alangkah baiknya dicek dulu kondisi tempat sholat perempuan. Apabila kondisinya sangat penuh, lebih baik anak dibawa bersama dengan ayahnya ke tempat sholat laki-laki, karena terlihat tempatnya cenderung lebih luas dan lebih teratur.


Di depan Mesjid Quba

Setelah itu kami pergi ke gunung Uhud. Ma sya Alloh, Dinara senang sekali ikut mendaki bersama kami.  Mungkin Dinara kangen dengan space luas sehingga Dinara berlari-lari, sambil menyanyi "Let it go.. let it go.." Gak apa-apa deh, asal tidak mengganggu yang lain. hehe..







Setelah itu kami mengunjungi kebun kurma. Disana kami tidak membeli apa-apa karena harganya lebih mahal daripada di pasar kurma. Namun, uang apapun diterima lho disini. Kalau mau bayar dengan Rupiah atau Ringgit juga bisa :)


Kebun Kurma
Tempat makan
Nah, karena travel hanya termasuk sarapan saja, maka kami harus mencari sendiri untuk makan siang dan makan malam. Alhamdulillah di hari-hari awal kami makan bekal yang kami bawa, seperti rendang, abon, kering tempe kacang hehe.. Kami pun membawa beras dan rice cooker sehingga kami tinggal membeli lauknya saja. Lebih hemat kan hehe.. Berikut tempat makan rekomendasi kami.


- Al-Baik
Al Baik merupakan tempat makan fast food yang cukup populer di Madinah. Lokasinya bisa dilihat di link ini. Porsinya banyak dan harganya yang ramah di dompet. Saya selalu membeli 1 porsi untuk dimakan berdua. Harganya untuk 1 paket broast dengan isi 4 ayam, 1 kentang dan 1 buah roti burger adalah 13 Riyal. Tempat makan ini selalu ramai pengunjung dan tempat antriannya dipisah lho. Ada tempat antri take away untuk laki-laki, take away untuk perempuan, dine-in untuk single, dan dine-in untuk keluarga. Nah, antrian yang biasanya penuh adalah antrian take away untuk laki-laki. Diperlukan kesabaran yang ekstra pokoknya hehe (kata teman yang sudah pernah antri disana). 

Tips #3 Karena membawa anak, kami masuk ke antrian untuk keluarga. Pintu masuk untuk antriannya berbeda dengan pintu utama yaitu masuk lewat Al Jazeera Mall lalu naik ke lantai 2.  


Foto diambil dari sini

1 porsi Chicken Meal. Foto dari sini 


Di Family Area Restoran Al-Baik 
- Zam-zam Restaurant
Restoran ini masih di kompleks yang sama dengan Al-Baik, di Al Jazeera complex. Lagi-lagi porsinya besar. Jadi lebih baik beli satu porsi dahulu kemudian kalau kiranya kurang ya bisa beli lagi. Kalau tidak salah, yang Rice with Half Chicken ini harganya 16 Riyal. Antriannya tidak sepanjang di Al-Baik kok, rasanya juga enak.


Rice with Half Chicken
Raudhah
“Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196) .
Raudhah merupakan salah satu dari tempat-tempat mustajabnya doa. Tak heran jika orang-orang berbondong-bondong datang ke Raudhah. Tanda kita sudah berada di Raudhah adalah karpet yang berwarna hijau (berbeda dengan warna karpet masjid Nabawi yang berwarna merah) dan tiang-tiang putih dengan ornamen kaligrafi yang khas. Di dalam kawasan ini juga merupakan letak makam Rasulullah SAW dan juga dua sahabat Saidina Abu Bakar R.A dan Saidina Umar R.A. Untuk jamaah laki-laki, Raudhah dibuka 24 jam. Masuk dari pintu nomor 1, As-Salam Gate. 
Pintu masuk ke Raudhah untuk jamaah laki-laki

Pintu nomor 1 Masjid Nabawi Gerbang As Salam
Alhamdulillah, waktu itu Suami pergi ke Raudhah pukul 3 pagi dan cenderung tidak penuh. Malah bisa sempat berlama-lama disana sampai sholat subuh berjamaah. 
Untuk jamaah perempuan, Raudhah hanya dibuka di waktu-waktu tertentu yaitu waktu dhuha, setelah setelah Dzuhur dan setelah Isya. masuk ke Raudhah melewati pintu nomor 25, Uthman Bin Affan Gate. 


Pintu masuk menuju Raudhah untuk jamaah perempuan

Suasana antrian menuju Raudhah
Saya pergi ke Raudhah sendirian. Awalnya agak takut juga karena kebanyakan yang pergi kesana berkelompok, katanya agar bisa saling menjaga. Namun, Alhamdulillah, waktu itu saya baik-baik saja. Positifnya, saya jadi tidak begitu banyak mengobrol saat menunggu. Saya bisa fokus beribadah, membaca Al-Qur'an atau membaca list doa yang sudah disiapkan. Jujur saja, waktu menunggunya lebih lama dibandingkan dengan waktu berada di Raudhah. Sebagai gambaran, ketika saya ke Raudhah ba'da dzuhur, mulai mengantri pukul 13.30 dan waktu selesai kira-kira paling cepat pukul 14.45. Kalau waktu dhuha, mulai mengantri pukul 08.00 dan keluar pukul 09.30. Oh iya, ketika hari Jumat, saya merasa jamaahnya lebih banyak dari biasanya. Ada hal yang sangat membekas di ingatan saya kala itu. Saat saya menunggu memasuki Raudhah, saya bertemu dengan seorang Ibu yang membawa anaknya yang berumur 6 tahun. Beliau berkata "kuncinya sabar, sabar, dan sabar. Jangan sampai dorong-dorong. Kita mau ke Raudhah kan untuk beribadah dan itu hukumnya sunah. Kalau kita ke Raudhah tapi malah jadi dzalim ke orang lain karena dorong-dorong, kita malah rugi." 

Tips #4 Ketika masuk dari pintu nomor 25, coba ke shaf bagian depan di bagian kiri. Lalu nanti askar akan mengelompokan kita berdasarkan suku bangsa. Nah, ikutilah askar yang membawa papan bertuliskan "Kelompok berbahasa Melayu". Turuti apa kata Askar ya. Kalau Askar bilang "Ibu, duduk", duduklah. Bila askar berkata "Ibu, jalan", maka ikuti askar. Selanjutnya, sabar dan sabar dan sabar, in sya Alloh kebagian sholat sunnah di Raudhah 😊 

Taiba Market
Nah, saatnya belanja oleh-oleh! Lengkap lho! Mulai dari abaya, sajadah, kopeah dan yang lainnya. Harga abaya dimulai dari 20 Riyal, kualitasnya pun macam-macam. Penjualnya rata-rata bisa bahasa Indonesia lho. Ayo bu, dipilih dipilih dipilih.. 😎 Harga sajadah juga sesuai dengan modelnya : macam-macam :) Mulai dari sajadah kecil yang bisa dimasukan ke dalam tas, sampai sajadah yang bisa menjadi matras. Tidak cuma membeli oleh-oleh, Suami pun membeli kain ihram disini seharga 40 Riyal. Kalau kata suami mah bahannya enak menyerap keringat dan kainnya besar sehingga nyaman untuk digunakan ketika berihram.

Bin Dawood hypermarket
Ini dia supermarket yang super lengkap. Selengkap itu loh hehehe.. Disana saya membeli beras dan juga buah-buahan. Letaknya di dekat pintu gerbang mesjid nomor 17.



Pasar Kurma
Di hari sebelum kami ke Mekkah, kami pergi ke Pasar Kurma. Disana tokonya banyak sekali, dan semuanya menjual kurma (ya iyalah namanya juga pasar kurma hehe). Ketika masuk kesana kami sempat bingung juga mau ke toko yang mana.


Foto dari sini
Akhirnya kami beli ke toko Tomoor (kalau gak salah tokonya nomor 1, pokonya toko gede dan ada di tengah). Kurma ajwa saya dapat dengan harga 40 Riyal per kilo. Sedangkan waktu saya ke Kebun Kurma, harga kurma ajwa sekitar 60-70 Riyal per kilo. WOW. 

Tips #5 Beli kurma lebih baik ke pasar kurma saja ya.. Insya Alloh lebih murah hehehe..

Dulu sering kali saya lihat foto Madinah di feed instagram dengan caption 'Rindu'. Saya berkata dalam hati, benarkah? Masya Alloh, sekarang saya sendiri merasakannya. Suasana masjid Nabawi yang menyejukkan hati, Raudhah yang ngangenin walaupun waktu antrinya lebih lama daripada waktu berdiam disana, pintu lift yang super sibuk ketika akan masuk waktu sholat karena banyak orang yang ingin ke masjid, jamaah yang saling sapa dengan 'Assalamualaikum', anak-anak yang menemani ibu-bapaknya di masjid, dan yang lainnya.. Semoga Alloh mengundang kita semua untuk berkunjung kesana (lagi) bersama dengan keluarga dan orang-orang tercinta, aamiin.. Sekian cerita pengalaman kami selama di Madinah. Semoga pengalaman dan tips-tips di atas bisa bermanfaat dan dapat membantu teman-teman ya :)
Read more >>>

Friday, January 12, 2018

Umroh dengan Balita : Persiapan dan Packing List

Alhamdulillah Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh, Tuhan semesta alam atas karuniaNya, kami dapat mengunjungi tanah suci dan mengerjakan ibadah umroh bersama dengan anak kami, Dinara.  Overall, saya hanya bisa mengucapkan Alhamdulillah, Alhamdulillah dan Alhamdulillah.. Terasa selalu ada jalan meskipun membawa balita. 

Setelah mengobrol dengan pak Suami, kami bersepakat untuk menuliskan pengalaman umroh kami bersama Dinara (4 tahun) di blog ini sebagai referensi saya (iya, saya suka lupa nih kalau gak ditulis hehehe)  untuk umroh berikutnya (aamiin Ya Alloh) dan semoga juga bermanfaat bagi teman-teman. Supaya tidak terlalu panjang, In sya Alloh akan saya bagi menjadi 3 buah postingan yaitu Persiapan, ketika di Madinah dan ketika di Mekkah. Oh iya, jika ada usulan lain berdasarkan pengalaman teman-teman, feel free to share :) Sip deh kalau begitu langsung saja ya. 

1. Waktu Keberangkatan
Kami memilih waktu keberangkatan akhir tahun. Pada periode ini, Mekkah dan Madinah cukup adem. Suhu sekitar 23 derajat Celcius ketika pagi dan 30 derajat Celcius ketika waktu dzuhur. Mungkin analoginya seperti musim semi di Groningen dengan matahari yang bersinar. Waktu ini cocok bagi kami karena pas dengan libur panjang Natal - Tahun Baru.

2. Rute Keberangkatan 
Mekkah dulu atau Madinah dulu? Sebetulnya dari dua kondisi itu, ada plusnya dan ada minusnya juga. Untuk orang dewasa, mungkin tidak ada masalah khusus mau kemana, lama perjalanan belasan jam, dll. Namun, karena membawa balita, perhatikan juga lama durasi perjalananan dari point to point. Yup, dari saat keluar rumah hingga sampai di hotel. 
Ada orangtua yang lebih memilih ke Madinah dahulu supaya bisa rileks sebentar karena anaknya tidak bisa dibawa langsung perjalanan yang lama. Namun ada pula yang lebih memilih ke Mekkah dahulu. Katanya supaya "sekalian" saja.
Secara personal, kami memilih rute ke Madinah terlebih dahulu karena bisa rileks dan lebih mempersiapkan diri untuk Umroh, plus juga penyesuaian kondisi untuk Dinara. 
Namun kembali lagi sebagai orangtua, kita yang paling tahu tentang kondisi anak kita. Oleh karena itu sesuaikan ya. Tentu kita ingin menjaga agar anak tetap happy kan supaya orangtuanya juga happy :)

Travel yang kami pilih. Gambar dari sini
3. Dokumen
Jangan lupa siapkan syarat-syarat dokumen yang dibutuhkan di antaranya adalah paspor, residence permit (yang masih valid minimal selama 6 bulan ke depan), pas foto, surat bukti mahrom bagi perempuan (Surat Uitreksel atau nama suami tertulis di paspor istri), dan juga buku kuning bukti vaksin meningitis. Membuat appointment vaksin menigitis di Groningen bisa dilakukan disini.

4. Cek Airlines yang Akan Digunakan
Apakah airlines tersebut memiliki fasilitas home entertainment? Jika tidak, maka masih ada waktu untuk menyiapkan hal-hal yang dapat menghibur anak selama perjalanan panjang. Syukur-syukur anak bisa tidur selama di pesawat ya :) Namun tidak ada salahnya untuk jaga-jaga. Pengalaman kami  kemarin terbang dengan menggunakan EgyptAir dan di dalamnya tidak ada home entertainment. Alhamdulillah saya membawa beberapa worksheet untuk mewarnai, buku cerita favorit dan sempat mendownload app Baby Shark di detik-detik terakhir (haha).

4. Check-in Online 
Kalau formasi tempat duduk pesawat 3-3-3 ya tidak masalah ya. Tapi kalau 2-4-2? Walaupun nanti akan berangkat dengan grup, saya merasa check in online ini sangat penting. Memilih tempat duduk di pesawat to make sure saya suami dan anak duduk berdekatan agar perjalanan menjadi nyaman. Biasanya check-in online dapat dilakukan 48 jam sebelum keberangkatan.

5. Bagasi
Mengecek aturan bagasi juga tidak kalah penting. Pengalaman kami dengan EgyptAir, setiap orang diperbolehkan membawa 2 bagasi/koper dengan berat maksimal masing-masing 23 kg. Pada akhirnya kami membawa total 3 buah koper. 1 buah koper (ukuran untuk kabin) diisi full dengan makanan, snack yang BANYAK, susu UHT kotak, jus buah kotak dan kado-kado untuk Dinara (yang nantinya diberikan secara bertahap hehe). 
Bukan berarti di Mekkah dan Madinah gak ada snack lho ya hehehe.. Namun, kami beranggapan lebih baik membawa banyak snack favorit Dinara terlebih untuk kado-kado kecil "penghilang bosan". Toh snacknya tidak akan dibawa pulang kan.. Alasan yang lainnya juga adalah kami tidak ingin membuang-buang waktu awal disana dengan mencari tempat beli snack atau mainan anak-anak yang kami tidak tahu apakah Dinara suka atau tidak. We would like to use our time there as efficient as we could.
Pada akhirnya 1 koper tersebut kosong dan bisa kami isi dengan oleh-oleh untuk keluarga kami di Indonesia seperti sajadah, abaya, dll. Yiipppie!

Berikut adalah checklist barang bawaan kami
  • Stroller. Ini wajib dibawa karena nanti disana akan banyak berjalan kaki. Walaupun nanti stroler tidak bisa dibawa masuk ke dalam Masjid, namun bisa disimpan di halaman Masjid. Di Masjidil haram, ada tempat parkir khusus untuk baby stroller yaitu di sebelah kanan dan kiri gerbang no 1 King Abdul Aziz.
  • Ransel atau tas kecil, untuk dibawa ke masjid, berisi Al-Quran, catatan doa, snack dan mainan anak
  • Kado kecil untuk anak, misalnya buku mewarnai, stiker-stiker gambar kartun kesukaan anak, buku cerita, dll.
  • Buku Tilawati Anak. Sambil menunggu waktu Isya di pelataran masjid, saya selalu sempatkan Dinara untuk membaca buku Tilawatinya. Satu halaman saja per hari cukup membuat saya bangga akan Dinara :)
Sebagian perlengkapan penghilang bosan Dinara
  • Makanan : beras (dan rice cookernya), makanan kering seperti abon, tempe kering atau rendang. Tidak lupa 4 buah pop mie ;)
  • Snack seperti oreo, wafer, lollipop (penting!), rozijntjes, snikkers, dll.
  • Minuman kotak ukuran 200 mL: Susu UHT kotak (12 kotak) dan jus buah (12 kotak)
  • Hand sanitizer 
  • Deterjen bubuk 
  • Selimut kecil untuk anak
  • Kamera (hanya bisa dipakai di pekarangan masjid karena tidak boleh dibawa ke dalam) 
  • Botol air minum. Penting untuk refill air zamzam setiap habis dari masjid :)
  • Obat-obatan. Walapun disana terdapat banyak apotek, tidak ada salahnya membawa obat-obatan sendiri seperti parasetamol, nose spray, obat diare, betadine, tolak angin, obat batuk, obat pencahar, plester, minyak angin, balsem, dll.
  • Alas kaki yang nyaman. Hehe, yang ini khusus untuk para orangtua. Pengalaman saya menggunakan sendal teplek di hari pertama disana membuat kaki saya lecet. Hari kedua dan seterusnya saya menggunakan sepatu kets yang memiliki bantalan yang empuk. Alhamdulillah super nyaman!  :)
  • Sunglasses, walapun akhir tahun cenderung dingin namun sinar matahari cukup menyilaukan ketika waktu Dzuhur-Ashar
  • Toiletries non perfumed (sabun, sampo, sabun cuci muka, moisturizer, body lotion, deodoran, tisu basah, lip balm). Walaupun aturan 'dilarang menggunakan barang-barang berparfum' hanya saat berihram namun kami memilih untuk "pukul rata saja deh semuanya"  :)
Toiletries Umroh_1

Toiletries Umroh_2

  • Vaseline
  • Kapas, tissue, cotton bud
  • Plastik kresek untuk sendal/sepatu dan plastik kecil untuk bungkus makanan. Setiap kami ke masjid, selalu ada saja yang memberikan coklat atau permen untuk Dinara. Alhamdulillah.
Begitulah kira-kira persiapan yang kami lakukan. Tak lupa, yang paling utama adalah perbanyak berdoa, taubat and manage your expectation (yang ini akan saya ceritakan di bagian selanjutnya ya)

Sisanya serahkan pada Alloh :) Baiklah, cukup segini dulu cerita saya. Semoga bermanfaat :) 

Semoga ibadah yang akan atau yang sedang dipersiapkan dapat berjalan dengan lancar ya. Aamiin.. Saya titip doa ya semoga saya dan keluarga bisa kembali lagi ke tanah suci. Aamiin :)
Read more >>>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik