Stand Up for Yourself


Curhat sedikit, semoga dengan ditulis bisa jadi proses healing juga. Kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu tapi tetep bikin saya merinding kalau teringat.

Cerita ini saat saya masih menjalani program PhD. Saya sempat merasa sedih ketika ada kolega saya yang resign dari PhDnya dengan alasan “ingin mengurus anak” padahal PhDnya sudah setengah jalan. Saya sangat menghargai keputusannya, karena saya juga mengerti bagaimana sulitnya menjalani dua peran ini : sebagai mahasiswa dan sebagai Ibu di perantauan.

Dan, ternyata saya kena impactnya. Bapak Bos jadi lebih ketat pengawasannya. Ada suatu masa ketika saya ikut course (jadi tidak bisa ke Lab), tapi bapak Bos mengira saya bolos dari lab. Saya mau pergi konferens dengan membawa keluarga tapi malah dianggap mau liburan. Ampun deh.. disuudzonin itu ga enak banget rasanya, apalagi sama Bos sendiri. Saya jadi bingung kan. 

Ada suatu masa di mana saya merasa  sangat tertekan, harus selalu melakukan yang terbaik. Kolega saya bahkan mengatakan:

"If you are a student, you have to be good. But if you are a mom, you have to be very good. You know what I mean, Amalina?"

Sedih? Tentu.

Jackpotnya adalah.. project saya adalah project yang sangat tricky banget, saya ingat ketika introductory program, salah satu Profesor berkata kalau project saya ini "cukup berani".

Belum lagi Bos saya ini kalau mau publish jurnal harus di jurnal Q1 dan bukan sembarang Q1 alias maunya jurnal tertentu saja. Kalau gak Q1 ya Beliau mending gak mau publish.

Teman-teman dari grup sebelah kan mana tahu ya yang begini-begini. Mereka hanya tahu "selama S3 udah publish berapa paper?" Nyess banget rasanya.

Gerutuan sering kali menghampiri pikiran. Kenapa saya harus ngerjain projek ini? Kenapa saya kebagian projek yang susah? Kenapa saya masuk grup penelitian ini? Kenapa Bos saya kaya gini sih? Kenapa dan kenapa dan kenapa lainnya.

Dari situ lah saya jadi lebih termotivasi untuk menunjukkan kalau “maaf, anggapan Bapak tidak benar.” Kadang saya pernah merasa ingin mendapatkan impresi yang bagus dari supervisor. Saya kerja terus labwork terus. Lagi-lagi berbagai omongan 'nyelekit' lainnya dari Bos mendarat saat meeting evaluasi tahunan. You know Dutch is really direct hehehehe. Sebagai orang Sunda yang "iya, mangga mangga, nyanggakeun", hal tersebut gak bisa banget diaplikasikan. in order to be polite, eh malah dikira lemah and incapable to do things *sakitjendral*

Tenang ajaaa atuh pak, da saya mah gak akan kabur...😔

Salah satu kolega saya mengingatkan "kamu yang penting kerjakan yang betul dan yang terbaik. Kamu kerjakan ini untuk kebaikan kamu sendiri, bukan buat Bapak Bos."

Iya betul juga. Saya harus mengerjakan tidak hanya studi saya saja, tapi juga semua kegiatan dengan lillah. Dengan niat untuk Alloh. Selama ini apa sih yang selalu membuat kecewa? Perkataan seseorang? Pernyataan seseorang? Bukan. Bukan itu, tapi ekspektasi dari diri kita lah yang kadang menyakitkan.

Alloh Maha Tahu sedangkan kamu tidak tahu. 

Saya tidak tahu pasti, namun barangkali ini lah yang Alloh ingin katakan pada saya: start to stand up for yourself, Na. 

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Jakarta, 21 Februari 2021
Amalina

No comments

Post a Comment