Sunday, June 14, 2020

Mommy Brain: Kondisi Mudah Lupa Pasca Melahirkan

" Cuti melahirkan selesai. kembali bekerja. ke lab lagi. ke lab lagi." dalam pikiran saya.
Pagi itu hari pertama saya kembali setelah kurang lebihnya 3,5 bulan off (cuti melahirkan+bonus wfh karena pandemi). Alhamdulillah suami masih WFH jadi baby DNA masih bisa di rumah (dadah dadah sesegukan Ibu di daycare bisa dipending dulu). Si Kakak juga inginnya di rumah, padahal TK-Daycare sudah mulai buka.

Saat sampai di lab dan hmm.. lupa password masuk lab. Sekali saya pencet kombinasi angka yang saya ingat. Eh malah Access Denied 😫 Untungnya ada kolega yang masuk ke lab juga and she told me the password. Ah thank God..

 The picture is taken from here

Jujur saya merasa nano nano hari itu. Campur aduk antara rasa senang, sangat bersemangat, gugup, kagok dan yang paling kentara adalah lupa. Ya, mudah lupa. Saya harus membaca lagi protokol kerja yang biasanya saya lakukan dengan mode autopilot 😅

To make long story short, hari pertama bekerja aman dilalui. Pekerjaan lab selesai dilakukan dengan baik meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Indeed, I need to adapt and recall things.

Rasa lupa ini seperti deja vu. Saya merasa kembali ke 6 tahun yang lalu, ketika saya kembali ke lab setelah cuti melahirkan Dinara. Jangankan di lab, saya bahkan lupa password PC saya. Aduuhh...
"Amalina, indeed you have to come back after maternity leave. See, you need more time to adjust." kata kolega setelah melihat saya berkali-kali salah memasukkan password pada PC.
Kolega saya pun berkata, sering kali lupa pada perempuan setelah melahirkan itu suatu yang normal dan wajar.

Hal ini biasa disebut dengan Mommy Brain atau Momnesia. Ada juga yang menyebut dengan istilah Baby Brain.

Eits, ini terbukti secara ilmiah lho.
Menurut penelitian Hoekzema, et.al pada tahun 2016, grey matter atau materi abu-abu pada otak Ibu mengalami penyusutan. Grey matter adalah komponen utama dari sistem syaraf pusat. Perubahan kentara terasa saat Ibu hamil trimester ketiga dan lamanya setidaknya 2 tahun.

Lantas, apakah perubahan ini berimplikasi buruk? Tidak. Justru perubahan otak ini membuat para Ibu menjadi lebih peka terhadap anak. Ditambah lagi dengan adanya hormon oksitosin (yang memiliki peran penting saat hamil, melahirkan dan menyusui) membuat para Ibu cenderung mengabaikan pengalaman buruk dan hanya mengingat hal hal yang membahagiakan saat melahirkan dan mengurus anak. 

Masya Allah.. sungguh Allah menciptakan kita dengan demikian sempurna ya :') Jujur, sekarang saya sama sekali lupa rasanya kontraksi. Kalau saja saya ingat persis bagaimana rasanya, mungkin saya tidak mau punya anak lagi dan mungkin para Ibu tidak ada yang mau hamil untuk kedua kalinya. 

Tapi tapi tapi, Mommy Brain ini jangan dijadikan alasan dong. Nah, supaya tidak melulu lupa dan susah fokus, tentu saya perlu menyiasati si Mommy Brain ini. Biasanya saya langsung mencatat hal hal kecil atau ide ide langsung sebelum keburu lupa. Biasanya saya langsung mengetiknya dan mengirimkanya ke whatsapp ke suami saya karena kadang bullet journal jauh dalam jangkauan. Biasanya sih pak Suami akan tanya "apaan nih Bu?" wkwkwk.. 

Anyway, semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Semoga kita semua sehat selalu ya! Untuk para Ibu di sana, you are doing great, keep it up!


Tulisan ini dibuat untuk #1minggu1cerita dengan tema Lupa.

Jakarta, 14 Juni 2020
Amalina

Referensi:
Hoekzema, E., Barba-Müller, E., Pozzobon, C., Picado, M., Lucco, F., García-García, D., ... & Ballesteros, A. (2017). Pregnancy leads to long-lasting changes in human brain structure. Nature Neuroscience, 20, 287-296.
https://www.psychologytoday.com/gb/blog/the-baby-scientist/201805/the-science-mom-brain
https://www.nytimes.com/2018/05/11/well/family/reframing-mommy-brain.html

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik