Tiramisu

Salah satu hal yang sangat disyukuri saat tinggal di Groningen adalah melimpahnya bahan dairy-based seperti butter, cream cheese, mascarpone, buttermilk, heavy cream, yogurt dengan harga yang terjangkau.

Tentunya kesempatan itu tidak saya sia-siakan begitu saja. Salah satu hidangan dengan bahan dairy-based yang sering saya buat adalah Tiramisu 😊 

Berikut resepnya ya.

Bahan-bahan:
- 3 buah kuning telur
- 200 mL heavy cream (1 pak Slagroom, 30-35% vet), dinginkan
- 50 gr gula pasir
- 250 gr keju mascarpone
- vanilla extract secukupnya
- 2 gelas kopi (kepekatan kopi bisa disesuaikan selera ya 😊)
- 2 bungkus Kue Lady Fingers (di Supermarket tulisannya Lange Vingers)
- Coklat bubuk untuk taburan

Cara membuat : 
1) Kocok kuning telur dan gula di mangkuk di atas air mendidih (kocok tim), sampai volumenya kira-kira 3 kali lipat (kurang lebih 5-8 menit).
2) Angkat adonan telur lalu tambahkan mascarpone. Kocok lagi sampai rata.
3) Dalam mangkuk yg berbeda, kocok heavy cream dingin sampai kaku. 
4) Tambahkan adonan telur-mascarpone yang sudah dingin ke dalam heavy cream yang telah dikocok. Tambahkan vanilla extract secukupnya. Aduk rata.
5) Siapkan loyang. Celupkan lady finger ke dalam kopi sebentar saja (Jika terlalu lama  ladyfinger akan hancur). Susun lady finger di bagian dasar hingga rata.
6) Tuang adonan filling, ratakan. Tambahkan coklat bubuk di atasnya. 
7) Kemudian, buat layer berikutnya. Susun lagi lady finger yang telah dicelup ke dalam kopi, tambah lagi adonan fillingnya, ratakan dan tambahkan coklat bubuk di atasnya.
8) Tutup loyang dengan cling wrap dan simpan di kulkas selama 6 jam.

Biasanya saya buat hidangan ini sore hari untuk dinikmati besok paginya 😊

Selamat mencoba! ♥️


Everyone is juggling with their own battle

Everyone is juggling with their own battle

Hari itu tidak biasanya saya membawa tas tambahan. Selain ransel dan cooler bag untuk ASIP, saya membawa tas berisikan kerudung, masker dan baju anak-anak ke kantor. Sehari sebelumnya saya baru selesai bebenah lemari pakaian, clearance kerudung dan baju anak masih layak dipakai tapi yang sudah lama sekali tidak dipakai. Daripada numpuk, lebih baik dikasih saja, gumam saya. 

Saya berencana memberikan kantong berisi ini ke Mbak Santy, pegawai di kantor, yang suka bantu bersih-bersih. Mbak Santy ini ramah sekali dan kalau ngobrol juga nyambung, pasti tentang anak karena anak keduanya sebaya dengan Dinara. 

Hari itu saya mencari Mbak Santy, tapi Mbak Santy tidak terlihat. Berhari-hari sampai saya bertanya pada resepsionis dan meminta nomor kontaknya. 

Kabarnya Mbak Santy sedang bolak-balik rumah sakit. Hmm, semoga keadaan Beliau baik-baik saja. 

Akhirnya kantong berisi pakaian itu pum saya simpan sementara sampai menunggu Mbak Santy kembali lagi ke kantor. 

*bersambung*

Beban yang terbawa


This picture is taken from : <a href='https://pngtree.com/so/backpack'>backpack png from pngtree.com</a>

Sudah beberapa pekan isi tas ngantor saya ini selalu berat. Isinya apa? Buku lab journal yang selalu saya bawa pulang saat weekend tapi saat di rumah malah kehandle karena disibukkan oleh pekerjaan lain, dan saat weekday saya bawa lagi ke kantor. Pas di kantor gak kehandle juga karena sudah keburu disibukkan dengan either another experiments, meetings or another paperworks.

Bawaannya berat karena tas yang selalu saya bawa ke kantor itu ada 3 : 1 tas ransel, 1 cooler bag untuk ASIP dan 1 baby bag punya Amanda untuk di Daycare.

Saya pun bergumam dalam hati.. atuh daripada dibawa berat-berat bolak-balik, mending disimpen aja, diberesin dulu biar ga kebawa lagi.

Dan.. Voila, tiba-tiba langsung terkoneksi akan hal-hal yang menggantung di pikiran saya beberapa pekan lalu. 

Buku lab journal ini ibarat sesuatu yang belum selesai dalam diri, entah itu inner child, denial dari emosi yang tidak kunjung divalidasi, jealousy pada seseorang, it could be anything, intinya ya sesuatu yang belum selesai - belum damai. 

Dan.. hal tersebut kalau didiamkan saja bisa jadi beban yang terbawa kemana-mana, bisa berimbas dalam kehidupan sehari-hari secara sadar atau tidak sadar. 

Tidak dapat dipungkiri, ada beban-beban dalam pikiran yang selalu terbawa. Saat ini saya sedang berjuang untuk berdamai dengan inner child. Dulu sih gak kerasa ya, tapi malah baru terasa sekarang saat mengasuh anak. 

Seperti gumaman saya dalam hati tadi, satu per satu beban ini baiknya diselesaikan. Perlahan-lahan, karena semua butuh proses.

This is for you, kesayangan-kesayangannya Ibu.

Jakarta, 31 Mei 2021
Amalina

Beef Teriyaki

Memasuki waktu weekend berarti saatnya saya nyetok makanan, masak, bebersih, ngepel, plus baking juga buat stress release πŸ˜† #MbaklessworkingmomπŸ’ͺ

Qadarulloh hari ini tukang sayur ga jualan, padahal udah siap-siap masak makanan kesukaan suami. Planning pun berubah dong. Alhamdulillah di freezer masih ada stok daging teriyaki. Kami biasa beli daging frozen di BBF meatshop. Kualitasnya baik dan tentunya halal. Daaan daging teriyaki ini sudah dislice tipis-tipis, yes! 

Dulu waktu masih di Groningen mah bikin daging teriyaki PR banget, ngiris daging tipis tipis kan lumayan ya.. perlu difreeze dulu sebentar biar ngirisnya rapi, tapi sekarang no more! Thanks to BBF Meatshop. Tinggal thawing aja terus langsung pakai πŸ˜„ 

Bahan-bahannya mudah banget, saya gak pakai saus teriyaki khusus, cukup pakai soy sauce, jahe dan bawang putih. Soy sauce disini bukan kecap manis cap burung atau alfabet yaa hehehe.. Resep ini kilat banget dan minim bahan dan rasanya maksimal, suami dan anak-anak suka πŸ₯° Yuk langsung lihat resepnya di bawah ya. 


Beef Teriyaki

Bahan:
- 500 gram daging teriyaki (saya pakai yang berlemak)
- 80 mL soy sauce
- 300 mL air
- 1 butir bawang bombay (disini saya ga pakai karena kehabisan stok)
- 3 sdm bumbu dasar bawang
- 1 sdt jahe bubuk
- 2 sdm gula pasir
- 1/2 sdt kaldu bubuk
- merica secukupnya

Cara membuat:
1. Panaskan wajan lalu tumis daging hingga berubah warna. Saya tidak menggunakan minyak karena daging sudah berlemak. Saat ditumis daging akan mengeluarkan minyaknya.

2. Masukkan bumbu dasar bawang, soy sauce, jahe bubuk, gula pasir dan air.

3. Masak sebentar hingga daging empuk
4. Tambahkan merica dan kaldu bubuk. Koreksi rasanya dan sajikan dengan nasi hangat.

Gimana gimana, kilat banget kan bikinnya? Biasanya saya sajikan dengan homemade chicken egg roll supaya seperti di HokB*n hihihihi. Atau kalau disajikan di atas ricebowl juga bisa, supaya seperti di Yosh***ya 😁

Selamat mencoba and happy cooking!

Jakarta, 30 Mei 2021
Amalina

Dimsum Siomay Ayam Udang


Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga bikin dimsum πŸ˜„ Jadi.. ceritanya Senin lalu ada Halal Bihalal di kantor dengan Dimsum sebagai konsumsi yang disediakan. Dikarenakan saya masih cuti, jadi saya ga kebagian nyicip deh. 

Dasar yaaa si saya penyuka sarupaning persomayan perbasotahuan dan perdimsuman, saya kabita kan.. walhasil cari di GrabFood deh buat delivery. Sudah pencet klik klik klik, tinggal order, tapi kok jempol rasanya berat banget ya buat pencet order. Apa yang bikin berat? 

Karena saat scrolling pilih pilih, pada menunya ada yang menuliskan "Dimsum halal" dan ada yang tidak. Yap, seketika saya langsung ingat, untuk resep yang "tidak halal" menggunakan either daging babi atau lemak babi (lard) pada dimsumnya.

Baik.. karena saya ragu, akhirnya saya menutup aplikasi grabfood dan melipir ke Tokopedia, mendadak mencari Klakat kukusan bambu Dimsum πŸ˜† Weekend ini pokoknya mau bikin dan makan Dimsum di rumah #tekadsebulatbolaπŸ’ͺ

Klakat kukusan bambu pun sampai dua hari kemudian, dan saya beli bahan-bahan dari tukang sayur online langganan: Nyonya Sayur di Blibli 😊

Jumat malam pulang dari kantor saya semangat banget merendam klakat kukusan bambu dengan air panas sebelum dipakai besoknya. Setelah direndam 30 menit, saya keringkan semalaman. Air rendamannya berwarna coklat kekuningan dan ada bau bau khas, mungkin karena dari bambu ya.

Anyway, Sabtu pagi bahan-bahan dan peralatan sudah siap semua. Langsung deh saya eksekusi resepnya. Saya pakai resep dari Devina Hermawan, dengan modifikasi sedikit. Saya hanya menggunakan 5 sendok makan tepung tapioka supaya teksturnya lebih 'meaty' namun tetap kenyal, juga untuk putih telurnya saya tambahkan 1 lagi. 

Berikut saya tuliskan resepnya ya.

Dimsum Siomay Ayam Udang

Bahan:
- 250 gram ayam cincang (daging ayam giling yang saya beli sudah banyak lemaknya, jadi saya tidak tambahkan kulit ayam lagi)
- 50 gram udang kupas
- 5 sdm tepung tapioka
- 2 butir putih telur
- 1 sdm minyak wijen
- 2 siung bawang putih
- 1 sdm saus tiram
- 1 sdm kecap asin
- 1 sdt garam
- 1/2 sdt merica
- 1 sdt gula
- wortel parut secukupnya
- kulit dimsum (Saya beli dari Baso Yen, recommended!)

Cara Membuat:
1. Campur bahan-bahan di food processor, giling dan campur hingga rata. Setelah adonan tercampur rata, pindahkan ke dalam wadah bersih dan tambahkan wortel parut. 
2. Ambil kulit dimsum dan taruh satu sendok makan adonan siomay dan cetak. Berikan sejumput wortel parut di atas siomay.
3. Taruh siomay di atas kukusan, tata dengan rapi
4. Kukus selama 20-30 menit
5. Sajikan dengan saus cocolan dimsum 😊



Resep ini dapat menghasilkan 15-20 buah siomay. 

Yeay, akhirnya yaa jadi makan dimsum siomay! Suami dan anak-anak juga suka. Selain enak dan puas (karena dapet banyak dong hehe), makannya pun rasanya tenang  πŸ˜‡ Alhamdulillah Alhamdulillah.. 

Semoga postingan ini bermanfaat yaa.

Jakarta, 22 Mei 2021
Amalina

Apple Pie


Resep ini untuk pinggan diameter 28 cm 

Bahan kulit:
350 gram tepung terigu
180 gram unsalted butter, dingin, potong kecil-kecil
1 butir telur
4 sdm air dingin

Bahan isian:
1 kg buah apel (saya pakai apel malang), kupas dan iris tipis
1 sdt cuka
1 sdt kayu manis bubuk
75 gram gula 
3 sdm dark brown sugar (bisa juga dengan gula palem)
1 sdm tepung maizena

Bahan olesan:
1 butir kuning telur

Cara Membuat Kulit Pie:
1. Aduk terigu dengan butter dingin hingga teksturnya seperti pasir (saya menggunakan food processor)
2. Tambahkan telur, aduk rata
3. Tambahkan air dingin sedikit demi sedikit, aduk jangan terlalu lama, cukup hingga adonan terbentuk menjadi bola
4. Bagi adonan menjadi dua, satu adonan nanti digunakan untuk kulit bawah, satu adonan untuk penutup pie
5. Simpan dalam lemari es kurang lebih 30-60 menit

Cara Membuat Bahan isian:
1. Dalam wadah, masukkan cuka dan apel yang sudah diiris-iris. Aduk hingga rata
2. Masukkan gula pasir, brown sugar dan kayu manis. Aduk rata dan diamkan di kulkas kira-kira 30 menit hingga jusnya keluar.
3. Kemudian, tambahkan maizena dan aduk lagi.
4. Masak apel di atas kompor, hingga jus mengental dan apel cukup melunak. Sisihkan

Penyelesaian:
1. Siapkan oven dan panaskan dengan suhu 170 derajat Celcius.
2. Giling kulit pie menggunakan rolling pin dengan ketebalan kira-kira 1 cm dengan diameter melebihi diameter pinggan agar sisi pinggan dapat tertutupi adonan. Taruh kulit pie pinggan, rapikan dan tusuk-tusuk bagian dasar pie dengan garpu.


3. Taruh isian apel
4. Tutup bagian atas dengan kulit pie, rapikan dan beri lubang dengan mengerat bagian tengah pie menggunakan pisau
5. Oles bagian atas pie dengan kuning telur
6. Panggang pie dengan suhu 170 derajat Celcius selama 30-45 menit atau sampai kulit pie matang berwarna kuning kecoklatan (waktu pemangganggan disesuaikan jika pie lebih tebal dan jenis pinggan yang digunakan)
7. Angkat dari oven dan sajikan

Selamat mencoba ya πŸ˜„ Happy baking!

Jakarta, 10 April 2021
Amalina






Dealing with Dutch Tax Office after Back for Good to Home Country

Jakarta, May 2020

It has been several months that I've been back for good to Indonesia. However, even I have deregistered from the city hall, still.. I still got the letter that I don't like: A letter from the Tax Office.

So this is the chronology. In September 2019, we received a letter from SVB, asking about our leaving from the Netherlands. They sent us a form that has to be filled and we uploaded the filled form via mijnSVB on September 25th, 2019.

Then, at the end of November 2019, we received a letter from the Tax Office. It is written that we will get kindgebonden budget for 2020 and they mentioned that this decision based on the information from SVB. 

We do not want to receive any money both from the tax office and SVB since we are not in the Netherlands anymore. We tried to stop these coming surcharges via Mijntoeslagen, but we can't, without any explanation. 



We had no clue what to do, therefore we asked the secretary of my former department.

To make a long story short, she called a lady from the International Welcoming Center North and told her about my issue with SVB and the Tax office. Actually, she can not be of any assistance, but she advises us to contact Buro Buitenland.
However, she called the number above for me (very kind of her, isn't she πŸ˜‡) The officer of Biro Buitenland could see in my account of Mijn toeslagen that I have tried to stop it - not clear why I did not succeed but she will stop it for us.

She also called SVB to find out why they did not proceed with the form we have uploaded on September 25.

And voila, at some point they have not proceeded yet with the form we uploaded... and in a short time they proceed with this and inform the Tax office to not execute any more payments of both Kinderbijslag or/and Kindgebonden budget. 


After months, we didn't hear anything. Since we don't want to wait until the end of the year, therefore we called the tax office buitenland number via Skype with credit.

With a very bad signal of internet, we managed to get the reference number and the amount of money that we had to payback. A week after, we called them again to make sure that they got the money in their system before we close our Dutch bank account.

Finally, we feel very relieved (after months!) 

Regards,
Amalina

Persiapan Pulang Kembali (back for good) ke Indonesia

Sebenarnya postingan ini sudah ada di draft sejak tahun lalu, tapi baru sempat dirampungkan sekarang. Mungkin kurang lengkap jika dibandingkan dengan persiapan kepulangan di saat pandemi. Tak apa lah ya terlambat daripada tidak diposting sama sekali πŸ™. Semoga to-do list ini dapat membantu bagi yang akan back for good ke Indonesia dari Belanda.

***

Setelah sekian tahun, akhirnya sampai juga di titik ini: saatnya pulang. Ketika kita mau berangkat ke Belanda tentunya banyak persiapan yang kita lakukan. Tentunya ketika pulang pun perlu persiapan juga, bahkan dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Berikut adalah pengalaman kami menyiapkan kepulangan ke Indonesia setelah kurang lebih 6 tahun tinggal di Belanda. Saya tuliskan per point saja ya supaya mudah 😊

1. Kontrak rumah

Apartemen yang kami sewa adalah dari pihak MVGM. Kami memberikan notifikasi kira-kira 2 bulan sebelum tanggal kepulangan kami, sehingga pihak MVGM ngeh dengan pembayarannya dan ada cukup waktu jika rumahnya akan diiklankan lagi. Well, semua dilakukan in advance dalam waktu yang cukup ya, namanya juga berurusan sama orang Belanda hehehehe, no no didadak dadak hehehe.

Ketika datang, apartemen diterima dalam keadaan kosong. Ketika pulang pun kita perlu mengosongkan apartemen, ya seperti saat kita terima. Tapi lain cerita kalau akan over contract apartemen seperti kami :) Ini cukup memudahkan urusan, apalagi jika calon tenant baru ini mau membeli furniture di dalamnya. Win win solution jadinya: kami tidak perlu mengosongkan seisi rumah seperti saat dulu kami terima dan calon tenant baru pun tidak perlu memikirkan isi rumah πŸ˜‰

Hanya saja.. pengalaman kami saat akan check out, petugas MVGM sampai heran dan hampir mau marah saat memeriksa rumah. Katanya Dia kesal, kok masih ada barang-barang. Kami jawab kan mau over contract ke tenant baru. Ternyata dia gak tahu dong. Yah jadinya ada missunderstanding deh haeu 😡. Untungnya kami sudah ada pegangan surat tertulis antara saya dan calon tenant yang isinya persetujuan barang-barang apa saja yang akan Beliau takeover. Juga e-mail dari MVGM yang berisikan tentang take over sewa apartemen. 

Dari sini kami baru menyadari kalau bagian departemen termination contract dan departemen "check out" ini beda dan belum tentu mereka berkoordinasi 🀨

Proses beberes rumah ini paling menyita waktu dan tenaga. Apalagi di tengah hecticnya mengurus PhD defense kami berdua. Tapi Alhamdulillah keluarga dan para tetangga membantu sekali, terutama saat memindahkan barang dan angkat barang-barang yang mau dibuang.

2. Internet, Air dan Listrik

Urusan ini pun akan lebih baik dilakukan dari jauh-jauh hari. Untuk tagihan air (Waterbedrijf), kami memberikan notifikasi online. Untuk listrik, kami memberikan notifikasi pada pihak Essent lewat telepon. Untuk provider internet (dulu pakai tele2), kami mengirimkan modemnya kembali ke pihak tele2 dan kami memberikan notifikasi sekitar 2 pekan in advance kalau tidak salah.

3. Deregister di Gementee

Ini penting lho, jangan sampai dilewatkan ya hehehe. Deregister ini bisa dilakulan secara online kok. 

4. Penghentian asuansi kesehatan

Sebenarnya sistem di Belanda sudah terintegrasi, jadi jika sudah deregister di Gementee maka akan otomatis juga deregistrasi asuransi kesehatan, namun perlu diingat : it takes time dan bisa saja akan dapat invoice lagi hehe.

Karena kami berpikir "selagi masih di Groningen, lebih baik diurus saja biar ga ribet nantinya", jadinya kami menghubungi pihak asuransi kesehatan, dalam hal ini Menzis. Kami menghubungi Customer service Menzis via whatsapp di nomor ini : +31613513636.

6. Ov chipkart

Jangan lupa untuk berhenti berlangganan OV Chipkart ya, waktu itu saya menelepon Customer service OV Chipkart dan meminta berhenti berlangganan dengan alasan back for good. 

7. Belastingdienst dan SVB

Ini super penting. Selesaikan urusan perpajakan ya. Jika sebelumnya menerima subsidi dari kantor pajak misal child budget dll, bisa dilakukan dengan di web mijnbelastingen πŸ˜‰

8. Legalisasi ijazah

Setelah menerima ijazah, Kami langsung mengurus legalisisasi dokumennya untuk nanti dilakukan penyetaraan ijazah di DIKTI. Ada yang bilang penyetaraan ini tidak perlu dilakukan. Namun lagi lagi, prinsip kami mah mumpung masih di Belanda dan masih bisa diurus di Belanda, kami lakukan saja. Khawatirnya nanti pas di Indonesia malah butuh. 


Kami mengurus legalisasi ijazah ke DUO, untungnya kantornya di Groningen jadi gak jauh. Setelah dilegalisasi di DUO dilanjut diproses legalisasi lagi ke KBRI Den Haag. 

Setelah beres urusan ini, baru diajukan penyetaraan ijazah ke DIKTI sesaat kami tiba di Indonesia.

Jika memiliki anak yang lahir di Belanda, jangan lupa juga untuk legalisasi aktenya, bisa dilihat di postingan ini. 

Baca Juga: Legalisasi Akte Kelahiran Anak di Belanda

9. Kirim paket via ekspedisi

Mengirimkan barang via paket ini pun cukup menguras tenaga dan waktu. Ada rasa galau saat beberes. Galau apa? Ya galau "duh ini dibawa ga ya.. sayang deh kalau ga dibawa" 🀭

Paket yang kami kirim sebagian besar berisi buku-buku cerita Dinara (ini kayanya sampai 2 box besar sendiri hehehe) dan peralatan dapur πŸ˜† 

Oh iya, akan lebih baik kita menyertakan surat pindah dari KBRI kepada ekspedisi yang digunakan (jika mengirim box relatif banyak) supaya nanti tidak bermasalah saat paket sampai di bea cukai. Ekpedisi pengiriman paket ini macam-macam lho. Sejauh ini kami pernah menggunakan jasa ekspedisi Pulang Kampung, Tegar Mulya dan Prioritas Logistic. Saat pulang back for good kami menggunakan jasa dari Prioritas Logistic. Kira-kira barang sampai di Indonesia kurang lebih dalam kurun waktu 3-4 bulan. 

10. Deaktivasi rekening Bank

Baiknya saat kita meninggalkan Belanda for good, akun bank juga harus dideaktivasi. Namun, kami sedikit ragu karena kami masih menunggu pengembalian uang heater dari MVGM (biasanya pengembalian ini saat akhir tahun dan kami pulang saat summer), pengembalian uang listrik (karena pola kami dari tahun ke tahun kami selalu dapat pengembalian karena bayar kelebihan) dan juga final calculation dari kantor pajak Belanda. Jadi, setelah kami konsultasi dengan pihak Bank (dalam hal ini Rabobank), win win solutionnya adalah: rekeningnya di freeze dulu dalam artian bisa cek saldo rekening tapi tidak bisa melakukan transaksi. Saat kami mendapatkan nominal pengembalian tsb dalam rekening, kami segera memberi notifikasi ke pihak Bank rekening akan diaktifkan dalam jangka waktu tertentu supaya kami bisa mentransfer uang tersebut. Setelah saldo di rekening nol maka kami memberikan notifikasi kepada pihak Bank untuk menutup akun rekening.

11. Menghabiskan poin kartu member supermarket

Jika memiliki poin pada bonuskaart Albert Heijn, kartu Kruidvat, dan kartu Etos, jangan lupa dihabiskan dulu ya hehehehe 😌 #ibuibugakmaurugi

12. Pamitan

Yap, setelah beberes, tidak lupa kami berpamitan pada tetangga dan juga komunitas Indonesia di Groningen πŸ˜‡

Berfoto dulu di depan apartemen sebelum ke airport. Tot ziens, Groningen! πŸ˜ƒ


Demikian persiapan untuk back for good kami ke Indonesia. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat πŸ˜ƒ

Salam,

Amalina

Stand Up for Yourself


Curhat sedikit, semoga dengan ditulis bisa jadi proses healing juga. Kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu tapi tetep bikin saya merinding kalau teringat.

Cerita ini saat saya masih menjalani program PhD. Saya sempat merasa sedih ketika ada kolega saya yang resign dari PhDnya dengan alasan “ingin mengurus anak” padahal PhDnya sudah setengah jalan. Saya sangat menghargai keputusannya, karena saya juga mengerti bagaimana sulitnya menjalani dua peran ini : sebagai mahasiswa dan sebagai Ibu di perantauan.

Dan, ternyata saya kena impactnya. Bapak Bos jadi lebih ketat pengawasannya. Ada suatu masa ketika saya ikut course (jadi tidak bisa ke Lab), tapi bapak Bos mengira saya bolos dari lab. Saya mau pergi konferens dengan membawa keluarga tapi malah dianggap mau liburan. Ampun deh.. disuudzonin itu ga enak banget rasanya, apalagi sama Bos sendiri. Saya jadi bingung kan. 

Ada suatu masa di mana saya merasa  sangat tertekan, harus selalu melakukan yang terbaik. Kolega saya bahkan mengatakan:

"If you are a student, you have to be good. But if you are a mom, you have to be very good. You know what I mean, Amalina?"

Sedih? Tentu.

Jackpotnya adalah.. project saya adalah project yang sangat tricky banget, saya ingat ketika introductory program, salah satu Profesor berkata kalau project saya ini "cukup berani".

Belum lagi Bos saya ini kalau mau publish jurnal harus di jurnal Q1 dan bukan sembarang Q1 alias maunya jurnal tertentu saja. Kalau gak Q1 ya Beliau mending gak mau publish.

Teman-teman dari grup sebelah kan mana tahu ya yang begini-begini. Mereka hanya tahu "selama S3 udah publish berapa paper?" Nyess banget rasanya.

Gerutuan sering kali menghampiri pikiran. Kenapa saya harus ngerjain projek ini? Kenapa saya kebagian projek yang susah? Kenapa saya masuk grup penelitian ini? Kenapa Bos saya kaya gini sih? Kenapa dan kenapa dan kenapa lainnya.

Dari situ lah saya jadi lebih termotivasi untuk menunjukkan kalau “maaf, anggapan Bapak tidak benar.” Kadang saya pernah merasa ingin mendapatkan impresi yang bagus dari supervisor. Saya kerja terus labwork terus. Lagi-lagi berbagai omongan 'nyelekit' lainnya dari Bos mendarat saat meeting evaluasi tahunan. You know Dutch is really direct hehehehe. Sebagai orang Sunda yang "iya, mangga mangga, nyanggakeun", hal tersebut gak bisa banget diaplikasikan. in order to be polite, eh malah dikira lemah and incapable to do things *sakitjendral*

Salah satu kolega saya mengingatkan "kamu yang penting kerjakan yang betul dan yang terbaik. Kamu kerjakan ini untuk kebaikan kamu sendiri, bukan buat Bapak Bos."

Iya betul juga. Saya harus mengerjakan tidak hanya studi saya saja, tapi juga semua kegiatan dengan lillah. Dengan niat untuk Alloh. Selama ini apa sih yang selalu membuat kecewa? Perkataan seseorang? Pernyataan seseorang? Bukan. Bukan itu, tapi ekspektasi dari diri kita lah yang kadang menyakitkan.

Saya tidak tahu pasti, namun barangkali ini lah yang Alloh ingin katakan pada saya: start to stand up for yourself, Na. 

Alloh Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui - potongan surat Al-Baqarah ayat 216.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Jakarta, 21 Februari 2021
Amalina

Rehat Sejenak


Akhir tahun begitu hectic dan sibuknya saya (juga suami). Mulai dari pekerjaan di lab dan mengandle projek tambahan terkait dengan Covid-19 plus plus soal pindahan rumah (no more nyewa insya Allah πŸ˜‡). Saya mengerti dan paham sekali mengenai deadline yang harus dipenuhi. Tapi kok rasanya saya megap-megap, seperti ikan yang keluar dari kolam yang sedang mencoba mengambil nafas. 

Hari-hari dilalui dengan rutinitas pulang kantor saat matahari sudah tidak terlihat, dilanjut mengurus dua anak lalu saat anak-anak sudah tidur saya meneruskan pekerjaan di rumah. Kadang masih ngulik pekerjaan sampai jam dinding menunjukan pukul 02:00 dini hari. Belum lagi tidur dengan mimpi yang berkaitan dengan pekerjaan dan paginya mulai lagi dengan ritme yang sama. And I was there thinking, "am I a robot?" Hmm.. Kalau ibarat saya adalah minyak, barangkali saat itu saya adalah minyak yang sudah overly saturated >.< 

Baik... nampaknya sudah tidak sehat nih. Untuk menetralkannya, saya mengajukan untuk rehat beberapa hari pada periode libur Natal-Tahun Baru. Otherwise I am gonna explode and disfunction, hehehe gawat kan kalau gitu 🀫 Si Kakak pun pas saat libur sekolah. Kami manfaatkan kesempatan ini untuk ke Bandung, tentu saja di Bandung tidak serta merta leha-leha saja karena.... harus mengurus pindahan dan juga mengambil akte kelahiran baby Amanda ke Disdukcapil. Sibuk juga dong? Iya hehehehe, tapi at least saya tidak memikirkan pekerjaan dalam sementara waktu.

Ke Bandung tidak lengkap tentunya tanpa wisata kuliner. Tapi saat new normal begini daan juga saya-nya riweuh beberes rumah, barang-barang untuk dikirim ke Jakarta, wes.. wisata kulinernya di rumah aja. Thank you Mang GrabFood dan Mang GoJek, saya masih bisa kulineran sambil beberes :)

Batagor Riri :) Saya beli kemasan vakum biar digoreng sendiri di rumah. Nyum!

Bubur Mang Oyo! Favorit sejak jaman kuliah di kampus Gajah :)


Pempek Rama

Lumpia Basah. Saya beli yang isinya baso, sosis, telur, makaroni dan kuetiaw. hahaha, no wonder judul lumpianya "Lumpia Basah Kapten". Siap, kapten! :)

Mie Baso Akung BPTS alias Baso Pangsit Tahu Somay. 1 porsi cukup besar, langsung wareg :)

Bonus foto : Huru-hara Pindahan hahaha


Setelah selesai urusan di Bandung, segera kami kembali ke Jakarta :) Alhamdulillah, rehat ini menyegarkan pikiran yang somehow semerawut. And randomly one quote just popped up in my head:

"Doing nothing usually leads to the very best something." - Winnie the Pooh on Christopher Robin Movie, 2018

Seringkali rehat ini dilupakan, apalagi pada lingkungan dimana apresiasi diberikan kepada yang bekerja tiada henti. Saat rehat, badan terasa lebih bugar, gak gampang emosian karena pikiran ga begitu "ngebul", dan bahkan lahir ide-ide baru (Aha!)

Anyway, selamat kembali beraktivitas di tahun 2021 ini.  Stay safe, stay healthy and the most important thing, stay sane :) 



Jakarta, 3 Januari 2021

Amalina