Wednesday, January 30, 2019

The Unforgettable 17 Hours

*Tadinya ini mau dipost saat ulang tahun Dinara bulan lalu, tapi baru sempat sekarang :) Tak mengapa ya :D*

Groningen, xx Desember 2013

Sehari sebelum due date
Siang itu Saya teleponan dengan Bapak (waktu itu belum ada whatsapp call hehehe). 
Bapak : "Kapan due date teh?"
Saya : "besok, Pak."
Bapak : Oh, ya mudah-mudahan lancar." 
Due date

Hari itu ada jadwal pengajian silaturahmi bulanan deGromiest. Tapi saya dan suami tidak datang, niatnay sih mau jaga-jaga di rumah saja. Tapi setelah ditunggu kok saya gak ngerasa mules apa-apa. Hmm.. Tiba-tiba keinginan membuat kue tidak terbendung. Saya lihat ke dapur dan.. Ah, tidak. Bahan-bahannya habis. Saya keukeuh ingin buat kue hari itu sampai Suami geleng-geleng. Akhirnya sore itu kami berjalan kaki ke Winkelcentrum Paddepoel untuk membeli bahan kue. Suami sudah ada firasat sih, katanya "wah, jangan-jangan mau buat kue untuk bekal di rumah sakit nanti?"

Sehari setelah due date
Aneh sekali kok saya berada di Bandung (?) Saya tiba-tiba berada di depan rumah nenek dan seingat saya, saya sedang minum dan minumannya tumpah. Saya langsung terbangun. Olala, ternyata itu hanya mimpi. Saya melihat ke arah jam dinding dan jam menunjukkan pukul 05.00. Saya merasa ada sesuatu yang basah di dalam selimut. Yup, Air ketuban saya pecah! 
Saya : Ay, ini aku ketubannya pecah.
Suami : (masih setengah sadar). Apa? Ohh warna apa ketubannya?
Saya : Bening
Suami : Coba telepon bidan. 
Akhirnya saya menelepon bidan.
Saya: "Hello, blablablabkjhhihjkbfjkbiohogjbaf... it seems that my water broke"
Bidan:" hey Amalina, I was waiting for your call. Your due was yesterday, right. What is the color of the water? Any contraction?"
Saya : " No contraction and the water is clear"
Bidan : "All right, no worries. It is normal. Just wait until 9 am in the morning. If the water turns green or if you see any blood, call me immediately."
Baiklah. Tapi 10 menit kemudian ketuban saya jadi warna hijau dan juga ada bercak darah. Seketika saya panik. Saya pun menelepon Bidan lagi. Alhamdulillah tak lama kemudian Bidan langsung datang ke rumah. Sang bidan memeriksa saya dan juga detak jantung bayi. Tak lupa Beliau mengecek bekas air ketuban saya. 
Bidan : "You have to deliver your baby within 24 hours, at the hospital*. Which hospital do you want to go? Martini or UMCG? I will call them immediately."
*Defaultnya orang Belanda, kalau tidak ada masalah apa-apa ya lahirannya di rumah saja :)

Alhamdulillah bidan membawa mobil dan mengantar kami sehingga kami tidak perlu menyewa taksi untuk ke rumah sakit. Saya dan suami sudah menyiapkan koper sejak beberapa pekan lalu yang isinya perbekalan ke rumah sakit seperti baju ganti, baju bayi, dan yang lainnya. Kami pun tidak lupa membawa maxi cosi untuk bayi.

UMCG, Pukul 06.30 CET
Sesampainya di UMCG, saya diantar ke resepsionis dan suami sudah menyiapkan uang koin 2 Euro untuk menyewa kursi roda. Bidan pun mendorong saya yang berada di kursi roda sementara suami mendorong koper dan tas. Sesampainya di ruangan, saya heran. Mengapa ruangannya tidak sama dengan ruangan yang saya lihat ketika saya survey ruang bersalin. Saya tanya Bidan dan Beliau berkata "iya kamu harus melahirkan di ruangan khusus". Benar saja, ruangannya lebih besar :)


Di ruangan itu, hanya ada saya dan suami. Seketika saya merasakan kontraksi pertama. Ah, begini ya rasanya. Bidan pun memeriksa pembukaan dan uhhhhh saya sangat tidak suka, rasanya tidak nyaman :( setelah dicek ternyata baru pembukaan 1-2. Katanya sih pembukaan akan bertambah rata-rata 1 cm per jamnya. Baik, berarti kira-kira nanti siangan ya lahirannya, gumam saya dalam hati. Semakin kesini kontraksi semakin kuat. Saya langsung mengabari orangtua dan juga kakak saya, untuk meminta doa semoga persalinan dilancarkan. 

Pukul 09.00 CET
Bidan memeriksa kembali sejauh mana pembukaannya. Setelah dicek, sayang sekali pembukaannya masih 2. Tapi rasa mules sudah sangat "nikmat"..

Pukul 10.00 CET
Pembukaan dicek lagi, dan lagi-lagi masih pembukaan 2. Seharusnya sih minimal sudah pembukaan 4.  Bidan akhirnya memutuskan untuk menginduksi dengan hormon agar kontraksinya lebih kuat lagi. Saya sudah pasrah saja, yang penting bayi lahir sehat selamat. 

Pukul 12.00 CET
Tangan satu diinfus hormon, tangan yang lain dipasang alat lain. Perut juga diberi seperti belt untuk mengecek kontraksi dan memonitor keadaan bayi. Saya jadi tidak bisa kemana-mana bahkan untuk ke kamar mandi pun tidak bisa. Semakin kesini kontraksi semakin kencang. Saya sudah beberapa kali meremas-remas tangan suami saya dan tidak mau ditinggal sedikit pun. Bidan pun mengecek lagi pembukaan dan lagi-lagi, masih stuck di pembukaan 2. Bidan akhirnya merekomendasikan saya untuk menggunakan epidural karena kontraksi jalan terus sementara pembukaan berjalan lambat. Khawatirnya kalau terus-terusan begini, saya malah kehabisan energi sebelum ngeden. Suami saya menyetujuinya.

Baca juga : Maternity Care di Belanda 

Pukul 14.00 CET
Akhirnya setelah dua jam menunggu, dokter spesialis anestesi datang juga. Dua jam menunggu rasanya lamaaaaa banget karena rasa mulesnya sudah WOW dengan pembukaan masih disitu saja.  Jarum pun disuntikkan lewat punggung dan saya tidak merasa sakit, mungkin rasanya kalah dengan rasa sakit mules :) Yang saya ingat, dokter berkata "you are quite small". Setelah prosesnya selesai, masya Alloh, mulesnya hilang. Bukan kontraksinya sih yang hilang, tapi rasa sakitnya yang hilang. Saya tidak bisa merasakan apa-apa dari perut ke lutut saya. yaiya atuh Na, namanya juga dibius, what do you expect? Hehe.. Yang tadinya gak bisa senyum dan muka awut-awutan, saya langsung bisa senyum lebaaaaaar sekali. Saya sampai mengucapkan terima kasih berkali-kali pada dokter :) kemudian Bidan pun mengecek pembukaan lagi, dan Alhamdulillah sudah masuk pembukaan 3. Badan pun sudah cukup puguh dan akhirnya bisa makan sedikit :) 

Pukul 15.30 CET 
Saya mulai mual dan voila, entah berapa kali saya muntah. Tapi ya demi anak ya, habis muntah ya makan lagi aja terus tapi keluar lagi, tapi makan lagi hehe.. Kemudian.. ada beberapa suster datang ke ruangan dan berkata "maaf, Anda harus pindah ruangan." APA? atuhlah... Akhirnya saya dipindahkan ke ruangan lain, yang tidak kalah besarnya dengan ruangan sebelumnya. Beberapa saat kemudian, mules terasa lagi dan sangaaaaaat kuat. Bidan dengan sigap menghubungi dokter anestesi lagi.


Pukul 17.00 CET
Dokter anestesi pun datang. Tapi saya bingung, kok bukan yang tadi ya? Ah, mungkin shiftnya sudah ganti. Dokter mengira saya sedang bernyanyi padahal saya berdzikir dengan suara yang cukup keras, untuk menahan kontraksi yang demikian hebatnya. Epidural pun diberikan lagi dan Alhamdulillah, setelah dicek ternyata sudah pembukaan 5. Half way to go. Sesekali suster datang untuk mengecek ginjal saja. Olala, itu dia efek samping dari epidural, saya jadi gak tahu kapan harus buang air kecil sehingga saya harus dipasang kateter. Selain itu, bidan pun sudah mewanti-wanti ke saya dan suami
"Karena ketuban sudah berwarna hijau, jadi nanti sesaat setelah bayi lahir, bayi akan langsung dibawa ke ruang dokter anak ya untuk diperiksa. Kami ingin memastikan bayi Anda dalam keadaan sehat. Jangan khawatir ya." 
To make long story short..

Pukul 21.00 CET
Bidan : "It is already 10 cm. You have to push now."
Pukul 21.20 CET
Akhirnya, saya mendengar tangisan itu. Rasa bahagia dan haru jadi satu :') Bidan pun menawari suami untuk menggunting tali pusar sang bayi. Kemudian, bayi langsung dibawa ke ruang dokter untuk diperiksa. Dia menangis keras sekali. Suami pun turut pergi ke ruangan dokter anak dan masya Alloh tangisannya terhenti seketika saat sang bayi mendengar suara suami.
Alhamdulillah kondisi bayi sehat, dan bayi dibawa lagi ke pangkuan saya. Proses IMD dimulai sambil Bidan menjahit bekas lahiran. Tidak terasa apa-apa, tidak terasa sakit sama sekali. Masya Alloh Alhamdulillah, saya yang serta merta berdoa supaya lahiran gak sakit, memang lahiran tidak terasa sakit sama sekali. Setelah proses IMD selesai, barulah bayi diukur panjang dan beratnya.  Pada dasarnya jika kondisi ibu dan anak sudah sehat, maka rumah sakit akan langsung memperbolehkan ibu dan anak pulang. Namun, hari sudah cukup malam sehingga kami diperbolehkan menginap di rumah sakit. Kami pun pindah ke ruang inap dan istirahat. Bayi pun tidur satu ruangan bersama Ibu. Sementara Ayah tidur di sofa.


Esok harinya, pukul 08.00 CET
Suster datang mengecek keadaan kami dan berkata "sudah oke semua, kamu harus mandi ya. Terus jam 10 harus sudah pulang ya." Baiklah... Habis mandi dan juga beres-beres, kami pun langsung menelepon taxi dan memberi tahu kraamzorg untuk segera stand by di rumah.

Sesaat sebelum pulang, kami sempat meminta suster untuk memotret kami, hehe.. :)

Baca Juga : Cerita Menyusui dan Menyapih Dinara


Beberapa pekan sebelum due date, saya dan suami sepakat memberi nama anak kami dengan inisial DNA. Mengapa? Mungkin itu adalah irisan dari studi yang sedang saya dan suami tekuni saat ini. Saya yang sedang belajar biokimia dan suami saya yang mempelajari tentang polimer. nah, apa ya polimer dalam biokimia? Diantara polipeptida, DNA, atau RNA, Kami pilih DNA. DNA yang double stranded, stabil dalam kondisi ekstrim sekalipun dan tidak mudah terdegradasi. Terdengar cukup nerdy ya hehehe. Tak apa, supaya jadi kenang-kenangan buat Dinara kalau dulu Dinara dilahirkan saat orangtuanya sedang merantau untuk studi 😊 But anyway, dialah DNA kami, Dinara N. Adharis.

Terimakasih ya Nak.. Terimakasih sudah mengerti akan kondisi Ayah dan Ibu selama ini. Maaf kalau saat weekend dan hari libur Ayah atau Ibu kadang-kadang masih harus pergi ke Lab.. Terimakasih atas kooperativitasnya selama 5 tahun ini ya, Dinara sayang.  Maafkan Ayah dan Ibu yang kadang masih harus berkutat dengan thesis saat di rumah. Semoga Dinara semakin sholehah, menjadi penyejuk kedua hati Ayah dan Ibu, yang kaya akan ilmu, hati dan pengalaman. Semoga Dinara menjadi wanita yang bahagia hidupnya di dunia dan juga di akhirat nanti. aamiin aamiin aamiin.. Ibu dan Ayah sayaaaaang sekali sama Dinara :')

5 tahun kemudian. Ibu, DNA dan struktur molekul DNA :)
Foto diambil di Science Museum Nemo, Amsterdam, 2018.
Read more >>>

Friday, December 28, 2018

Pelayanan Kesehatan di Belanda

Assalamualaikum! Alhamdulillah, 21 Desember kemarin tepat masuknya musim dingin di Belanda. Suhu siang hari rata-rata 2-6 derajat Celcius, tapi kalau sedang dingin-dinginnya bisa dibawah 0 derajat Celcius juga. Nah, harus mulai banyak minum vitamic C nih, supaya tidak rentan sakit karena perubahan cuaca. Mudah-mudahan kita semua sehat ya!

Gambar diambil dari sini

Tapi tapi, kalau sakit di sini, harus bagaimana ya?

Alhamdulillah, Belanda memiliki sistem kesehatan yang sangat baik. Setiap orang wajib memiliki Huisarts (family doctor). Saya merekomendasikan Huisarts di Klinik Studentarts. This practice services international students, international employees and also families. Websitenya tersedia dalam bahasa Inggris dan registrasi bisa dilakukan online disini : https://www.studentarts.nl/. Lokasinya ada dua yaitu di Zernike Complex dan di Hanzeplein. 

Lokasi Huisarts di Zernike Complex.
Foto diambil dari sini

Apa? Mau ke dokter harus buat appointment dulu?

Hehe, iya.. Di Belanda mah apa-apa semuanya pakai appointment :) Kadang jadwalnya luang, kadang jadwalnya fully booked. Pengalaman saya sih kalau udah ngerasa sakit, mending bikin appointment aja dulu. Kalau udah merasa sehat, tinggal cancel appointmentnya hehehe. Perlu diingat, meng-cancel appointmentnya jangan mendadak ya karena apabila kita sudah buat appoinment dan kita tidak datang, siap-siap kena charge! :)

Terus kalau hari libur atau di luar jam kerja bagaimana? 
Apabila benar-benar dalam kondisi emergency dan tidak bisa menunggu Huisarts, masih ada ada piket dokter kok. Bisa telepon langsung ke Doktersdienst Groningen di 0900-9229 (€ 0,10 per menit). Alamatnya di Van Swietenlaan 2b 9728 NZ Groningen (dekat Martini Ziekenhuis).  Saat hari kerja, praktek ini buka dari mulai pukul 17.00 hingga 08.00 (pagi esok harinya). Namun di akhir pekan praktek mulai buka dari 08.00-08.00 (esok harinya).

Baca juga : Maternity Care di Belanda

Jangan heran kalau disini dokter tidak mudah memberikan antibiotik atau anti-depresan. Pengalaman dulu pernah pas batuk parah dan saya bilang "batuknya parah nih sampai bikin saya gak bisa tidur, udah lama batuknya sampai sekian hari. Obat dari drugstore sudah gak mempan." Nah, baru deh dokter kasih resep obat hehhe. Huisarts akan menyanyakan apotek terdekat dari rumah dan dokter mengirimkan resep obat (online) lalu kita jemput deh obatnya :)

Oh iya, disini kita tidak bisa serta merta bisa ke dokter spesialis :) Hanya Huisarts yang bisa merujuk kita untuk diperiksa dokter spesialis. Pengalaman saya dulu ketika ada masalah pasca melahirkan. I had a problem with my uterus. Saya sempat bolak-balik Huisarts dan bilang saya mau ke ginekolog aja, tapi Huisart bilang "tunggu ya, kami tes dulu disini". Mungkin ada tiga rangkai tes yang saya jalani.  To make long story short, she said "Maaf, nampaknya saya harus merujuk Anda ke ginekolog. Anda mau ke ginekolog di rumah sakit mana? Biar saya buatkan janji dan surat rujukan."

Pada intinya, selagi Huisarts masih bisa menangani, kenapa harus ke dokter spesialis? :)

Baca Juga : Perawatan Gigi Anak di Belanda

Bayarnya bagaimana? 

Setiap orang wajib memiliki asuransi kesehatan. Jangan sampai lupa ya.. Untuk student biasanya menggunakan asuransi AON. Untuk employee atau yang bukan student, bisa menggunakan public health insurance. Contohnya Menzis, Hollandzorg, Independer, dan yang lainnya. Pilihan harga dan paketnya juga berbeda-beda. Untuk anak-anak (dari sejak lahir hingga umur 18 tahun) tergabung dalam polis asuransi salah satu orangtuanya (bisa ikut Ayah atau Ibu) selama orangtua memiliki asuransi kesehatan dari Public Healthcare Insurance. Jadi, nominal yang dibayarkan sejumlah biaya asuransi untuk 1 orang (ayah/ibu) namun coverage-nya untuk bersama (ayah/ibu + anak).

Sekian cerita singkat tentang pelayanan kesehatan di Belanda. Semoga bermanfaat ya dan semoga selalu sehat! Aamiin :)

Informasi lebih lanjut bisa diakses di https://www.doktersdienstgroningen.nl/EN/
Read more >>>

Wednesday, November 14, 2018

Jalan-jalan ke Nemo Science Museum Amsterdam

Setiap akhir pekan pertama bulan Oktober di Belanda adalah akhir pekan Sains Nasional, atau bahasa Belandanya adalah Weekend van de Wetenschap. Dalam akhir pekan ini, kira-kira lebih dari 250 tempat di Belanda meliputi museum, universitas, research institute mengadakan pameran atau pertunjukkan tentang sains dan juga teknologi, dengan cara yang mennyenangkan 😊

Kegiatan ini merupakan inisiasi dari National Centre of Science and Technology Pemerintah Belanda yang katanya sih telah dilakukan selama 30 tahun lebih. Tujuannya? Ingin menunjukkan kalau sains dan teknologi itu seru! Untuk tahun ini, kami sepakat untuk mengunjungi Nemo Science Museum di Amsterdam karena khusus di akhir pekan ini, there is no fee entrance alias tiketnya masuknya gratis 😎

Nemo Science Museum buka mulai pukul 10.00 pagi dan tutup pukul 17.00. Museumnya cukup besar, bahkan Trip Advisor pun menganjurkan untuk memberikan slot seharian penuh agar setiap spotnya bisa dikunjungi. As parents, we were so excited to show science to Dinara. 

Kami berangkat dari Groningen pukul 6 pagi, sayangnya di tengah perjalanan ada perbaikan jalur kereta yang menyebabkan perjalanan kami lebih lama namun Alhamdulillah Dinara gak bosan di jalan hehehe.. Kami tiba di Nemo Science Museum sekitar pukul 10.00.

Welcome to Nemo Science Museum, Amsterdam!



The banner at the entrance. Wooohoo!
Setelah melewati pintu masuk, kita bisa menitipkan barang-barang kita di loker. Lokasinya ada di sebelah kiri pintu masuk. Siapkan uang koin 50 sen sebagai deposit ya untuk membuka kuncinya. Kami menitipkan barang-barang yang kami pikir tidak perlu dibawa ke dalam seperti" seperangkat penghilang bosan" Dinara (buku-buku cerita, activity books dan lainnya). Selain itu juga ada loker khusus untuk buggy atau stroller, kalau tidak salah loker ini berbayar. Tapi ada juga tempat parkir buggy/stoller di sebelah tangga yang gratis namun itu di luar tanggung jawab pihak Nemo Science Museum. Alhamdulillah aman juga kok.

Puluhan loker yang disediakan oleh Nemo Science Museum

Loker Khusus Stroller

Tempat Parkir Stroller / Buggy

Setelah menyimpan barang di loker dan memarkirkan stroller, kami siap untuk menjelajahi Science Museum ini :) Museum ini terdiri dari 5 lantai. 

Lantai 1 : Fenomena Exhibition Floor 
Lantai pertama bertema “Fenomena”, it is all about Physics. Di sini,ada beragam permainan dimana kita bisa melihat kalau fenomena fisika itu ada dimana-mana lho. Super fun! 😊

Nemo Science Museum

Permainan Listrik Statis

The Chain Reaction
Ada pertunjukan interaktif yang sangat sayang kalau dilewatkan yaitu, The Chain Reaction Show. kita bisa belajar tentang Hukum kekekalan energi. 
Jumlah energi dari sebuah sistem tertutup itu tidak berubah—ia akan tetap sama. Energi tersebut tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan oleh manusia ; namun ia dapat berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain - Hukum Kekekalan Energi

Semua petunjuknya ada intruksi bahasa Inggrisnya, bagus lah untuk saya yang Bahasa belandanya maish pas-pasan ini hehe

It seems so familiar with my husband and I do :P
Kemudian kami berjalan ke arah belakang dan ada permainan membuat molekul sendiri alias bermain dengan molymod molecules. Disana saya melihat ada struktur DNA yang dibuat oleh molymod dooong. Saya terkesima dan langsung foto, hehehe, maafkan yaah soalnya saya sehari-hari kerja dengan DNA hihihi.



I was wondering how many boxes of molymod to make this DNA structure? :)

Kemudian kami mengunjungi theaternya, disana ada pertunjukkan interaktif dari Scheikundjejongens (The Science Boys) dan kebetulan hari itu mereka menjelaskan tentang sains dalam baking. Oh my, saya merasa diulangtahunin dooong hehehe karena kedua kesukaan saya jadi satu hehehe.. Untuk show kali ini, mereka menggunakan Bahasa belanda, namun Alhamdulillah masih bisa dimengerti.


Setelah show selesai, tidak terasa sudah waktunya makan siang. Saatnya makan bekal hehehe :)

Bekal kami : Homemade Muffins (yang sudah mau habis), Homemade Risoles Ayam Sayur (yang lagi-lagi hampir habis di perjalananan hehee) dan Schotel Macaroni.

Lantai 2 : Technium Exhibition Floor

Di lantai ini, ada beberapa permainan interaktif tentang seberapa kompleksnya proses logistik dalam sebuah pabrik yang meliputi pengoperasian mesin, robot sampai pemilihan alat transportasi pengiriman. Selain itu, ada juga permainan tentang konstruksi bangunan, jembatan, gedung pencakar langit, sampai lift  😊

Replika mebuat jembatan

Replikasi Proses di Pabrik


Brain Trick hahahahaa
Lantai 3 : Elementa Exhibition Floor 
Di lantai ini terdapat laboratorium kimia yang disponsori oleh BASF. Pengunjung bisa jadi Scientiest seketika, dilengkapi dengan jas lab dan kacamata pengaman, cool kaan? :)



Lantai 4 : Humania Exhibition Floor 

Di lantai 4, sudah bisa ditebak ya temanya apa, hehehe. Yup, temanya adalah tentang tubuh kita. Sayang sekali disini saya tidak sempat foto apa-apa :D

Lantai 5 : Energetica Exhibition Floor 
Pameran outdoor bertema Energi, terdiri dari permainan air, jam matahari, layang-layang dan yang lainnya. Alhamdulillah saya membawa baju ganti untuk Dinara sehingga Dinara bisa bebas main air disana :) Selain itu, di lantai ini juga terdapat restoran.

Sebelum main air


yeay!
Kami sangat menimati kunjungan kami Nemo Science Museum (ditambah masuknya gratis, departemen keuangan keluarga makin happy).. Kami pulang ketika museumnya mau tutup hehehe. We had a lot of fun! Alhamdulillah..

Tiket masuk harga normal : 16.50 euro/orang
Waktu buka : Senin-Minggu, pukul 10.00-17.00

Sources:
https://www.weekendvandewetenschap.nl/
https://www.weekendvandewetenschap.nl/activiteiten/
https://www.nemosciencemuseum.nl/en/


Read more >>>

Saturday, November 10, 2018

Musim Gugur 2018

Assalamualaikum!

Masya Alloh, pekan ini lagi rajin mengunjungi blog ini. Padahal bulan kemarin blog tidak dijenguk sama sekali hehe.. 
Kenapa? Soalnya tumpukan draft postingan sudah banyak tapi tulisannya malah tidak selesai. Selain di akun blogger, saya pun menulis list draft ini di bullet journal saya dan saya kaget, lho kok sudah sampai mencapai angka dua puluh tiga 😡). Aduuuuuh, mulai deh merasa intimidated dan serasa dikejar deadline (padahal ga ada deadline apa-apa kan ya selain jatah bolos #1minggu1cerita) hehe.
Baiklah, mulai kali ini saya mulai rampungkan draft saya satu demi satu. Mudah-mudahan saya istiqomah dalam merampungkannya, mohon doa ya hehehe..

Alhamdulillah, sudah masuk musim gugur di Groningen, tepatnya dari 23 September kemarin. Daun-daun sudah menguning dan memerah, bahkan ada yang sudah yang berguguran. Ma sya Alloh, indah sekali ya ciptaan-Nya. The daylight becomes shorter too! Hari menjadi lebih pendek yang berimplikasi pada perubahan jadwal sholat. Waktu subuh sekitar pukul 06.00 dan Maghrib sekitar pukul 17.15 (waktu yang ideal kan untuk qodo utang shaum kemarin? hehe ooops) Matahari terbit kira-kira pukul 08.00 pagi, ditambah lagi sekarang sudah masuk winter time (CET), sehingga perbedaan waktu Belanda dengan Indonesia menjadi 6 jam lebih lambat 😊

Jalan dekat rumah

Sepatu Dinara dan Ibunya hehe

Taman Selwerd dekat rumah


Ritme kegiatan pun perlu diadjust lagi supaya tidak menabrak waktu sholat yang berubah. Dinara masih belum paham betul sehingga ketika akan pergi ke sekolah pagi hari, Dinara malah ngeles "Bu, kan masih malam." hehehe, bukan malam sayang, ini namanya waktu subuh..

Musim gugur pun identik dengan desiran angin, kelabunya langit juga derasnya hujan. Alhamdulillah.. Musim gugur kali ini entah kenapa lain dari biasanya. Kenapa ya? Saya lebih menghargai musim gugur kali ini, apakah karena musim gugur kali ini adalah musim gugur terakhir saya pada chapter kehidupan saya di Groningen kali ini (aamiin, mohon doanya ya!) 

Eh tapi, ketika saya merenung lagi, bukan kah seharusnya saya harus menikmati hari seperti ini terus? Siapa yang tahu kalau ini bukan hanya musim gugur terakhir saya, siapa yang tahu juga akan hari esok? Astaghfirulloh. Seharusnya saya selalu implikasikan "live like there's no tomorrow". Jika angin ribut saya analogikan dengan pengelaman yang kurang mengenakkan, deadline yang selalu menghantui, tentu tidak perlu saya ambil pusing ya. Senyumin aja, karena pasti berlalu *cieee.. 😊

Cherish every moment. Embrace every possibility. Love every memory. -anonim

Baiklah, selamat hari menikmati hari dan jangan lupa bersyukur hari ini yaa, let's say Alhamdulillah.. 😊

*yay, one in the draft list is check marked! Alhamdulillah. Still many posts to go 😁*
Read more >>>

Thursday, November 8, 2018

Belajar Ikhlas

"That nyessss moment"

Pernah kah teman-teman merasa dan bertanya kepada diri sendiri ketika mengalami sesuatu yang kurang mengenakkan  kenapa harus saya ya yang mengalami ini?”

Beberapa tahun yang lalu, ada kolega saya yang resign dari PhDnya dengan alasan “ingin mengurus anak” padahal PhDnya sudah setengah jalan. Saya sangat menghargai keputusannya, karena saya juga mengerti bagaimana sulitnya menjalani dua peran ini : sebagai mahasiswi dan sebagai Ibu di perantauan. Tapi, yang kurang enaknya adalah kok malah saya kena impactnya ya dari sang Bapak. Ada suatu masa ketika saya ikut course di luar (jadi tidak bisa ke Lab), tapi sang Bapak mengira saya bolos dari Lab. Saya jadi bingung kan. Rasanya gak enak banget di-suudzon-in, padahal sudah berusaha melakukan yang terbaik :(

Di lain kesempatan, di suatu kegiatan, saya membuat 'sesuatu' tapi eh tapi yang mendapat credit malah orang lain. Jackpotnya adalah... kejadiannya gak cuma sekali dong. Rasanya gimanaa gitu ya, nyessss.

....dan berbagai nyessss moment lainnya hehehe.

Tapi, semakin kesini saya jadi paham, dari kejadian-kejadian diatas dan kejadian-kejadian lainnya, semua pasti ada maksud-Nya. Everything happens for a reason.


Seperti apa kata Master Oogway pada film Kungfu Panda, there are no accidents.

Boleh jadi itu adalah wadah untuk evaluasi diri. Saatnya mengecek, apakah niat saya sudah benar atau belum ya? Apakah niatan saya sudah ikhlas hanya semata-mata karena Alloh? Apakah tadi pagi saya melalukan hal yang tidak sebaiknya? Mungkin ini karena dosa saya? dan mungkin-mungkin yang lainnya.

Ada satu quote yang paling saya suka dari Aa Gym:
Kejadian pahit yang kehadirannya justru membuat kita lebih dekat dengan-Nya, itu bukan musibah, itu ANUGERAH.
Dan juga seperti yang tertulis dalam Al-Qur'an:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).
Dari sini, saya belajar bahwa kita sebagai manusia diuji oleh Alloh dengan kejadian yang kurang mengenakkan, yang tidak disukai oleh dirinya. Tapi, mungkin justru kejadian itu lah yang bisa membuat manusia mendapatkan kebaikan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Selamat hari Kamis! 😊

Salam,
Amalina

Ditulis untuk menasihati diri sendiri dengan tema “Ikhlas” pada #1minggu1cerita
Read more >>>

Monday, November 5, 2018

week #44 - Joining A Worldwide String Collaboration : Lord of The Rings Medley

It was like around mid-September, a Youtube channel Marijke Plays announced the third international collaboration, and this time is for Lord of The Rings Medley theme! Well, I was missing the Star Wars collab in January, so this time I don’t want to miss it again. I know it will be really nice to join this collab in my early stage of learning the instrument. 

Marijke provided the music sheets at MuseScore and it was divided into three parts with different difficulty. I was trying to practice the Violin 2 part but then, I did not have much time to practice (yes, I haven’t used the practice plan at that time). I was also busy to prepare the PhD defense party for my friend. Then I decided “okeydokey, Violin 3 then.” 

I was practicing for more less three days. It was so tricky to record my playing in front of the camera. I thought the recording was about to finished around 30 minutes or so, but it took longer than I thought!! I need to arrange the angle for the shooting, the lighting, and guess what? I hit a lot of wrong notes because… I’m so nervous! I did not know exactly how many takes it was but let me tell you, it was plenty :D Greget adalah ketika rekaman udah lancar dan masuk bagian akhir dari lagu, daaaan salah main. Sakitnya tuh di sini, balikan lagi dong dari awal, terus semakin grogi. Gitu aja terus :D  But anyway, I managed to send it to Marijke. I was afraid if my video is not sync with others, but anyway, nothing to lose. I have tried 😊

Finally, the video is out! In total, 21 violin, viola and cello players are collaborated in this ‘virtual orchestra’ and.... I am on the video, yeaaaaay!! 

Thank you, Marijke for letting me be a part of this collaboration and a lot of efforts to put all the videos together. Thank you, Andrew Hsieh for the beautiful music arrangement. 

Please kindly check this video out below, can you spot me? 😊


All the best, 
Amalina
Read more >>>

Thursday, November 1, 2018

week #43 - Creating A Practice Plan

How many hours I need to practice in a day?
That is a one million dollar questions, am I right or am I right? Ha! :)

For us as an adult beginner, of course, I would love to practice.. But then.. sometimes it's kind of difficult to find time :D For instance, I need to write my thesis, I need to take care of my daughter, there is also another 'wife work' at home, then other responsibility for the voluntary activity? Whoa, how could I manage to practice?

Alhamdulillah, I found some tips from Violinspiration :) As I mentioned in on the previous posts, I used a practice journal/bullet journal to keep in on the right track :)  But my previous practice journal was not so elaborated and at some point, I don't know what to practice. And you know what? It ends up with... repeating the same song I already could play. Well, is it counted as practicing or.... fiddle-ing? :( I found my self that the progress is a little :(

So, what did I do to improve it? 
At the beginning of October (last month), I tried to make a practice plan that has more details on it. I did also try to do practice every day but it is a short time, rather have a practice in a free day or every 2-3 days for 1-2 hours.

For instance, my plan for today :
5 minutes for Scale in G major, 2 octaves (single stroke and slur) and the Arpeggio, followed with the songs from the Fiddle Time Runners (in average 2 songs, because the songs are not that long) or the concerto for like 10 minutes. For the concerto itself, I divided into parts, let's say today I only practice for bar 46 to bar 50. yes, only 5 bars! (Currently, I'm practicing Concerto Oskar Rieding op 35 in B minor, the 1st movement)

The date is on the left corner. The left columns indicate the times. When it is done, I put a check mark on it.
It has been a month I'm using this practice plan and I think I have more progress. My intonation and my bow grip are getting better (hello double jointed fingers!). Also, my 4th finger has more strength :)

Today, I just finished the Fiddle Time Runners book, yeay!!! Looking back at those time, somehow it is hard to believe that I have been playing the violin for almost 1 year! Ma sya Alloh, Alhamdulillah :) I can't wait to start to learn the vibrato :) And also, from now on I have a lesson once every two weeks. I think it is better for me, as I need to finish my thesis and also.... my daughter is getting her lesson as well (surprise surprise!)

Wish us luck! :)

All the best,
Amalina

Read more >>>

Sunday, October 28, 2018

Dinara dan Tiga Bahasanya

Halo semuanya. Alhamdulillah ada kekuatan lagi untuk membuka dan menulis di blog ini. Kalau pekan ini saya tidak setor tulisan, wah saya bisa dikick dong dari komunitas menulis #1minggu1cerita. Lantas kemana saja sih 5 pekan kemarin? Alasan klasik: sibuk :P (Sibuk apa atuh, Naaaa.)

Sekarang saya ingin bercerita tentang Dinara (lagi). Kalau sudah menyangkut anak, tidak ada habis-habisnya ya untuk diceritakan hehehe. Ini bermula dari kolega saya (K) yang bertanya tentang Bahasa apa yang saya gunakan selama saya berkomunikasi dengan Dinara. Tentu saja saya (S) jawab Bahasa Indonesia. 
(K) : “bagaimana Bahasa Belandanya? Apakah lancar?”
(S): “Duh, dia sih udah seperti native saja sekarang. Bahasa Inggrisnya juga lancar, malah pronouncationnya lebih bagus dari orangtuanya.”
K :”Apa? Anak kamu bisa Bahasa Inggris juga? Kamu bicara Bahasa Inggris juga sama Dinara?”
S: “ya kadang-kadang sih. “
K:” Bagaimana caranya anakmu bisa tiga bahasa seperti itu?”

Saya awalnya tidak ada niatan dan bahkan pemaksaan sama sekali kalau Dinara harus bisa bicara tiga Bahasa : Indonesia, Inggris dan Belanda. Namun, yang baru saya sadari adalah saya menerapkan sebuah kekonsistenan yang berimplikasi cukup besar pada komunikasi Dinara. 

Gambar diambil dari sini

Di rumah saya dan suami menggunakan Bahasa Indonesia dan hampir tidak pernah menggunakan Bahasa Inggris kecuali kalau sedang berbicara di telepon atau berlatih untuk presentasi hehehe. Saat Dinara berumur 7 bulan, saya mulai memaparkan Dinara pada film-film kartun yang ada di Youtube. Pada mulanya sih lagu-lagu anak-anak yang berbahasa Inggris, channel yang dulu ditonton Dinara adalah Hooplakidz dan Little Baby Bum.

Alhamdulillah, sejak kecil Dinara sering dibacakan buku cerita. Saya membeli buku anak-anak di bookenfestijn karena harganya cukup murah. Tapi kalau sekarang saya meminjamnya saja dari perpustakaan terdekat J  Khusus untuk buku yang berbahasa Belanda, saya coba ceritakan dengan Bahasa Indonesia. Pronouncation Bahasa Belanda saya masih belum baik sehingga saya khawatir memberikan contoh yang tidak baik :) Saya cari buku yang bergambar supaya saya bisa berimprovisasi hehehehe.. 

Buku Dinara saat pertama kali ke Boekenfestijn tahun 2014

Dinara terpapar Bahasa Belanda secara rutin sejak Dinara umur 5 bulan. Saya memang tidak memilihkan daycare yang berbahasa Inggris. Alasannya kala itu simple saja: dekat dari kampus 😊 Sempat ada shock moment ketika Dinara berumur 9 bulanan, guru di Daycare sempat bertanya kepada saya :
"Mengapa Dinara terlihat diam saja ya? Apakah Dinara juga diam di rumah? Karena teman-teman seusianya sudah mulai berbicara sedikit-sedikit." 
Tentu saja saya agak kaget karena Dinara di rumah cukup bawel. Saya berkata pada penjaga di Daycare, mungkin Dinara butuh waktu untuk mengerti karena sekarang Dinara terpapar tiga Bahasa. Alhamdulillah, ketika Dinara berumur 1 tahun, guru di Daycare tidak mengeluhkan itu lagi bahkan Dinara sudah sangat baik berkomunikasi dengan teman-teman yang lain. Oh iya, saat Dinara kecil, kami tidak pernah meng-iya-kan perkataan bahasa bayi kepada Dinara. Misalnya, Dinara bilang “itu, kaaak-kaakk" yang maksudnya adalah burung. Namun, kami tidak pernah meng-iya-kan itu. Kami balas dengan “iya sayang, burung ya.” Sehingga Dinara tahu kalau itu bukan “kak-kak”, tapi burung J  Kosakatanya pun bertambah dengan cepat. Di usianya yang masih 2 tahun, Dinara sudah bisa berbicara dengan sangat jelas dan membuat kalimat.
Konsistensi kami menggunakan bahasa Indonesia di rumah, bahasa Inggris (juga bahasa Indonesia) pada tontonannya dan bahasa Belanda di sekolahnya terus berlanjut hingga Dinara berumur hampir 5 tahun sekarang. Saya memang membatasi screen time Dinara, namun saya sangat senang kalau screen time ini berbuah baik apalagi untuk bahasanya (hanya tontonan saja, saya tidak pernah memberikan games). Sekarang kalau Dinara sedang monolog bermain, pasti dengan main berbahasa Inggris. Ceritanya seperti di channel Ryan's Toy Review atau Blippi hehehhe.. Dia juga tahu siapa-siapa orang yang bisa dia ajak berbahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Dengan saya, Dinara tidak mau bicara bahasa Belanda (apalagi dengan neneknya) hehehe.. Alhamdulillah, rutinitas bedtime stories berlanjut hingga sekarang. Pasti saja sebelum tidur Dinara selalu meminta untuk dibacakan cerita :)


Bed time stories, December 2016


Di Perpustakaan, April 2018.
Photo Credit : Elly Reuter

Selain dari tontonan dan bacaan, kadang kami selipi tambahan kosakata baru ketika bermain. Misalnya ketika kami bermain memory cards. Di sela-sela saya tanyakan ke Dinara "itu gambar apa, Neng? Bahasa Inggrisnya apa ya..." Lucunya saat kami bermain memory cards tema kendaraan. Ada beberapa kata Indonesia yang panjang, namun di Bahasa Inggris atau Belanda cukup singkat. Misalnya kata Firetruck. Bahasa Belandanya? Brandweer. Bahasa Indonesianya? Mobil Pemadam Kebakaran. Nah lho! Kemi bertiga akhirnya tertawa hehehe..

Main Memory Card Games

Hal lain yang cukup menggemaskan adalah kalimatnya. Pada awalnya kadang Dinara suka menterjemahkan secara kata per kata. Misalnya : Tas merah. Karena dalam bahasa Inggris Red Bag (dan dalam bahasa Belanda Rode Tas), maka.dia dia bilang "Merah Tas" dalam bahasa Indonesia. Hehehe, terbalik ya susunan menerangkan-diterangkan nya :D  Ketika menyebutkan nama buah juga lucu sekali.
Dinara : "Ibu, ini kan buah melon air".
Saya: "Melon air?"
Lalu dua detik kemudian saya baru ngeh, oooh iya betul watermelon, Neng.. bahasa Indonesianya semangka J
Mudah-mudahan Dinara tetap fasih berbahasa Inggris dan Belanda sampai besar nanti dan semoga Dinara nanti bisa mendapat score IELTS yang tinggi ya biar bisa kuliah di Oxford aamiin (bawa Ibu ke UK ya Neng, Ibu belum pernah kesana.:D ).

Rekomendasi bacaan:

Read more >>>

A Moment to Remember :

Siapa yang suka nonton film? :) 
Nonton film merupakan kegiatan favorit saya saat libur/weekendYup, saya lebih suka diam di rumah, istirahat dan quality time sama keluarga. Saya suka sekali nonton Drama. Tapi kadang efeknya itu bikin suami saya kebingungan. Pasalnya setelah nonton drama, saya bisa nangis sesegukan. Suami saya gak ngomong apa-apa sih, tapi mukanya itu lho tersirat seperti mengatakan "ini istri saya kenapa??" 😡

Nah.. Ceritanya saya mau streaming series kesukaan saya yaitu This is Us dan The Good Doctor (siapa yang suka nonton series itu juga? Toss dulu dong hihihi, high five!). Eh teryata belum keluar episode barunya haeu.. Baiklah.. akhirnya saya menonton K-Drama, tentu dengan syarat bukan series yang berepisode-episode. Dicukupkan deh seriesnya dua aja dulu karena kalau terlalu banyak malah jadi addicted dan bahayaa, hehehe.. Akhirnya saya buka situs imdb, best kdrama movie romance. Keluarlah film ini : A Moment to Remember. 

Gambar dari sini

Sudah diduga, saya nangis sesegukan, sampai harus dipuk-puk sama suami. Nontonnya sama suami sih, mana ceritanya tentang suami-istri juga, kan jadi baper hehehe (alasan aja sih ini mah)
The first act of the film introduces the protagonists, a woman named Su-jin and a man named Chul-soo. The movie highlights their accidental meeting, followed by their subsequent courting despite their difference in social status that should have kept them apart. Kim Su-jin is a 27-year-old fashion designer, spurned by her lover, a colleague who was also a married man. Depressed, she goes to a convenience store, where she bumps into a tall, handsome man with whom she has a slight misunderstanding. Following that, she returns home and, receiving her father's forgiveness, decides to start life afresh.
One day while accompanying her father, who is the CEO of a construction firm, she coincidentally meets the man whom she earlier bumped into at the convenience store. He is Choi Chul-soo, the construction site's foreman who is studying to become an architect. Though he initially appears like a rough and dirty construction worker, Chul-soo exudes sheer masculinity in its most basic physical form. Su-jin instantly takes a liking to Chul-soo and actively courts him. There are many sweet events that take place in the occurrence of their courtship, eventually leading to their marriage.
The second act follows the couple happily settling into married life, with Chul-soo designing their dream house and Su-jin learning to become a housewife. As time passes, however, Su-jin begins to display forgetfulness, including an incident in which a fire breaks out because of a stove she'd forgotten to turn off. While Chul-soo caught the fire in time, the seriousness of the incident and others like it leads them to seek medical help.
The third act deals with Su-jin's early-onset Alzheimer's disease diagnosis, and the couple's consequent response to it. Su-jin at first experiences denial, then becomes heavily burdened by the knowledge that she will forget her husband. Nevertheless, they make the commitment to stay together and as the disease progresses, the trials the couple go through increase because of Su-jin's deteriorating memory. Finally, Su-jin makes the decision to leave their home and check herself into an assisted facility.
Despite his grief, Chul-soo remains at Su-jin's side even when she doesn't remember him, hiding his eyes behind sunglasses when he visits her so she can't see his tears. At the end of the film, Chul-soo reenacts the first time they met in the convenience store, with all of Su-jin's friends and family there. In the final scene, Su-jin is riding in a car beside her husband at sunset, and he tells her, "I love you."
Resensi diatas diambil dari https://en.wikipedia.org/wiki/A_Moment_to_Remember :D

Setelah menonton film ini, saya jadi semakin semangat untuk mencatat semua kegiatan dan terlebih pengalaman-pengalaman saya. Untuk rekaman kegiatan sehari-hari in sya Alloh sudah saya catat di Bullet Journal. Mungkin sekarang hal-hal itu seperti sudah saya hapal di luar kepala, sesuatu yang rutin, mungkin sekarang terlihat biasa saja tapi... 20 tahun lagi mungkin akan menjadi hal yang sangat menarik untuk saya, untuk anak saya, atau mungkin untuk cucu saya hehehe.. Saya juga jadi lebih semangat lagi untuk mengabadikan momen lewat foto (biasanya agak malas hehehe) dan juga nge-blog hihihihi. Bukankah semua akan menjadi 'A Moment to Remember'? :)
Read more >>>

Sunday, September 16, 2018

Alhamdulillah ada tempat sholat di Gedung Linnaeusborg University of Groningen


Linnaeusborg. The picture is taken from here

Linnaeusborg adalah nama salah satu gedung yang berada di Kampus Zernike. Gedung ini merupakan tempat bagi sebagian besar grup penelitian dalam bidang Life Science di Universitas Groningen. Awal tahun 2012, saya pertama kali datang dari Indonesia untuk melakukan penelitian program S2 di gedung ini. Saat hari pertama saya memulai aktivitas disana, saya baru mengetahui bahwa tidak ada ruangan khusus yang disediakan universitas untuk melaksanakan sholat. Sungguh berbeda dengan kondisi di Indonesia karena saya dapat dengan mudah menemukan musholla di kampus. Akhirnya saya mengikuti saran dari sesama mahasiswa Indonesia yang telah lebih dahulu berada disini. Mereka menyarankan saya untuk melaksanakan sholat di pojokan tangga emergency exit di lantai paling atas (lantai 9). Lokasi tersebut memang cukup sepi tetapi terkadang ada saja orang yang melewati tangga tersebut dan membuat aktivitas sholat menjadi kurang nyaman. Alternatif lainnya, saya mencoba sholat di salah satu ruangan gelap di laboratorium. Akan tetapi di dalam ruangan ini terdapat mikroskop dan fluorimeter sehingga sering kali digunakan oleh rekan saya untuk melakukan eksperimen.

Sekitar pertengahan 2013, saya memperoleh informasi bahwa ruangan P3K, yang sekaligus merangkap sebagai ruangan untuk memompa ASI, bisa digunakan untuk sholat. Ruangan ini berada di lantai basement gedung Linnaeusborg. Ruangan tersebut tidak dapat diakses bebas, untuk memasukinya saya harus meminjam kunci terlebih dahulu ke resepsionis. Mengingat multi fungsinya ruangan ini, banyak juga mahasiswa lain yang berkepentingan untuk memakai ruangan tersebut. Atas kesepakatan bersama, dibuatlah sistem reservation melalui google calendar untuk keperluan pemakaian ruangan setiap harinya. 

Reservasi ruangan via Google Calendar

BHV/Kolfkamer Linnaeusborg

Sampai akhirnya sekitar bulan Agustus 2016, pihak universitas (dalam hal ini resepsionis yang menyampaikan) melarang penggunakan ruangan tersebut untuk sholat. Saya pribadi tidak mengetahui alasan yang pasti atas larangan tersebut. Kemudian saya memberanikan diri menghadap pembimbing untuk mendiskusikan kebutuhan ruangan sholat dan menyampaikan hal sama kepada sekretaris departemen. Alhamdulillah, ternyata saya bertemu dengan orang yang tepat karena sekretaris departemen juga menjabat sebagai anggota Faculty Council. Jadi ketika saya menyampaikan maksud saya, Beliau sudah tahu masalah ini dan Beliau pun tahu bahwa makin banyak mahasiswa muslim yang bekerja di gedung Linnaeusborg. Sayangnya hingga saat itu belum ada keputusan yang jelas dari Faculty Board mengenai kebutuhan tempat ibadah ini. Sambil menunggu keputusan dari fakultas, Beliau membooking salah satu ruangan persis di sebelah ruangan Beliau untuk dijadikan tempat sholat sementara. Setiap hari ruangan tersebut dibuka dari pukul 13:00 hingga pukul 17:00. 

Alhamdulillah, kabar bahagia datang di awal tahun 2017. Saya dan rekan saya diundang oleh sekretaris departemen dalam sebuah rapat bersama dengan dua orang pengelola gedung Linnaeusborg. Beliau berkata bahwa ruangan ibadah sementara secara resmi akan dijadikan reflection room. Sebagai muslim kami diijinkan untuk melaksanakan sholat di ruangan ini. Selain itu, pihak pengelola gedung juga menawarkan untuk menata ruangan agar terasa lebih nyaman untuk beribadah. Secara totalitas mereka memenuhi apa yang kami minta seperti mengubah settingan lampu ruangan, membuat pintu kaca yang sebelumnya transparan menjadi lebih blur, serta mengeluarkan barang-barang dari ruangan yang dianggap tidak perlu seperti screen TV. DeGromiest Groningen juga ikut membantu menyediakan beberapa mukena, sajadah dan mushaf Alqur’an. Ma sya Alloh :')

 Reflection room Linnaeusborg room number 5171.0702

Alhamdulillah.. Semua ini tidak akan terjadi tanpa kehendak, kemudahan dan bantuan dari Alloh :)


Tulisan ini dimuat di website deGromiest (de Groningen's Indonesian Moslem Society) di link berikut :http://degromiest.nl/alhamdulillah-tempat-sholat-baru-di-gedung-linnaeusborg-kampus-zernike-universitas-groningen.html
Read more >>>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik